Rahasia Ibu

Eko Hartono
Chapter #13

Bab 12: Riyani

Arya penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Riyani. Sepuluh tahun berlalu banyak sekali perubahan yang dilihat Arya. Bukan saja pada diri ibunya, tapi juga dengan Riyani, perempuan yang pernah dicintainya. Waktu bagai roda berduri yang mampu menggilas nasib manusia dengan tragedi. 

Arya masih menyimpan rasa itu. Masih menyimpan harapan pada perempuan yang dicintainya. Bertahun-tahun berkelana, Arya tak pernah ada keinginan singgah di hati perempuan lain. Bayangan Riyani selalu mengikutinya. Walau pun hatinya diombang-ambing keraguan, apakah Riyani juga masih menyimpan perasaan sama. Arya jadi sosok melankoli yang menyiksa diri dengan halusinasi.

Arya sadar, bukan hal mudah dilalui seorang perempuan yang hidup di tengah budaya dan tradisi patriarki. Bagi perempuan Jawa, umur ibarat tali kekang yang membelenggu kebebasan. Seakan sudah menjadi aturan tak tertulis perempuan yang sudah menginjak usia duapuluhan tahun harus segera menikah. Keluarganya akan mencarikan pasangan bila masih lajang untuk meredam gunjingan dan kutukan menjadi perawan tua.

Entah, masalah apa yang dihadapi Riyani hingga bisa memiliki anak tanpa suami di usia muda. Dilihat dari usia putrinya yang sudah delapan tahun berarti tak berselang lama setelah Arya pergi dari rumah. Arya tak yakin Riyani langsung melupakannya begitu saja. Kalau pun dia kecewa karena ditinggalkan tiba-tiba tanpa pesan apalagi pamitan, bukan berarti dia akan melakukan tindakan bodoh. Itu tidak seperti Riyani yang Arya kenal.

Siang itu Arya sengaja bertamu ke rumah Riyani, lebih tepatnya rumah peninggalan orang tuanya. Kedua orang tua Riyani sudah tiada. Riyani punya seorang kakak perempuan, tapi tinggal di Kalimantan mengikuti suaminya yang bekerja di perusahaan perkebunan sawit. Riyani tinggal berdua dengan putrinya. Saat mengetuk pintu depan kebetulan yang membukakan seorang gadis kecil bergaun sederhana dengan rambut hitam panjang sebahu. 

“Cari siapa, Om?” tanya gadis kecil itu.

Untuk sesaat Arya tertegun. Menatap gadis kecil itu seksama. Ada debaran aneh dalam dadanya. Wajah gadis kecil itu mengingatkannya pada seseorang. Tapi Arya kurang yakin. Tatapan mata anak itu bagai pantulan cermin. Arya seperti melihat sosok dirinya dalam versi anak perempuan. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja, batin Arya menepisnya.

“Siapa, sayang?” Terdengar suara Riyani dari dalam rumah bertanya pada putrinya.

“Nggak tahu, Ma. Nggak kenal,” jawab gadis kecil itu.

“Oh, Mas Arya,” ucap Riyani tiba-tiba sudah muncul di belakang gadis kecil itu.

“Mama kenal?”

“Iya, sayang. Ini om Arya, teman sekolah mama dulu. Ayo, salim.” Riyani menyuruh putrinya mencium tangan Arya.

“Ini putriku, Mas. Namanya Arimbi.” 

Arya mengangguk. Setelah mencium tangan Arya, gadis kecil itu berbalik masuk ke dalam rumah.

“Anakmu cantik, Yan,” puji Arya.

“Mas Arya ada perlu apa ke sini?” Riyani bertanya penasaran.

“Pengen mampir aja. Aku juga mau ucapin terima kasih, kemarin malam sudah nolong ibuku,” jawab Arya.

“Kita ngobrolnya di dalam aja ya mas. Nggak enak kalau dilihat tetangga.”

Lihat selengkapnya