Penolakan Riyani memang mengecewakan Arya. Namun Arya bisa memahami. Mungkin masih sulit bagi Riyani untuk membuka lembaran hidup baru. Meskipun Arya siap menerima Riyani apa adanya dan hatinya benar-benar masih mencintainya, namun tidak semudah itu bagi Riyani. Keadaannya sekarang tidak sama seperti dulu. Banyak hal yang harus dipikirkan dan jadi pertimbangannya.
Arya coba menyadari, butuh waktu dan kepercayaan buat Riyani untuk mau menerima dirinya lagi. Arya berusaha sabar dan tidak buru-buru. Dia juga ingin tahu, apa yang sesungguhnya terjadi pada Riyani. Ada rahasia dan misteri yang sepertinya masih disembunyikan oleh wanita itu. Sebagian rahasia itu mungkin berkaitan dengan anaknya. Riyani masih belum mau terbuka siapa ayah kandung Arimbi. Hal ini yang membuat Arya penasaran.
Saat tadi bertemu dengan gadis kecil itu, ada yang terasa mengusik hati Arya. Wajahnya, matanya, alisnya, dan hidungnya mirip seseorang yang sangat dikenalnya. Arya menatap dirinya di cermin dan baru sadar wajah Arimbi mirip dirinya. Mirip Dirgo juga. Mereka seperti kembaran. Tapi... ah, Arya menepis perasaannya. Tidak mungkin Arimbi itu anaknya. Arya membuang jauh pikiran itu.
Mungkin hanya kebetulan saja anak itu mirip dirinya. Arya mencoba mengingat lagi kejadian beberapa tahun lalu. Selama dekat dengan Riyani belum pernah dia menyentuhnya. Memang mereka sempat berciuman bibir tapi itu hanya sekali saja. Itu pun refleks dari gejolak perasaan yang tidak tertahan. Riyani sendiri tidak marah.
Sejujurnya, rasa cintanya yang besar pada Riyani menimbulkan hasrat seksual. Namun jiwa remajanya yang masih polos dan lugu menahan diri dari keinginan itu. Arya hanya melampiaskan dengan onani. Atau melalui mimpi basah. Hal biasa yang terjadi pada masa remaja. Jadi Arya tak yakin dirinya pernah berhubungan badan dengan Riyani.
Namun, ada satu peristiwa yang masih terbayang dalam ingatan Arya. Suatu hari Riyani pernah menerobos masuk ke dalam kamarnya saat dirinya sedang tidur siang. Arya bermimpi bercumbu penuh gairah dengan Riyani. Tiba-tiba Riyani membangunkannya. Arya kaget dan sempat meraba celananya yang basah. Arya buru-buru menutupinya dengan bantal. Arya jadi gugup dan malu.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Arya diliputi rasa was-was.
“Katanya kita mau jalan-jalan. Kok malah tidur sih?” ujar Riyani dengan riang.
“Kamu sudah lama di sini?”
“Dari tadi. Aku lihatin kamu tidurnya pules banget. Aku gelitikin kaki kamu nggak juga bangun.”
Arya tertegun. Jadi Riyani sudah lama? Jangan-jangan tadi yang terjadi bukan mimpi, tapi nyata? Ah, Arya menepis dugaannya.
####
Sampai sekarang Arya masih ingat kejadian itu. Tapi Arya masih diliputi keraguan. Mungkinkah saat itu telah terjadi sesuatu diantara mereka yang menyebabkan Riyani hamil? Karena setelah itu tiga bulan kemudian Arya pergi. Seperti yang diceritakan Fajar, sebulan kemudian Riyani menyusul pergi merantau ke Jakarta. Dua tahun kemudian Riyani pulang sudah membawa anak.
Praaang...!
Terdengar suara benda jatuh dari kamar Maryati. Arya terkejut. Dengan penuh kecemasan Arya menuju kamar ibunya. Kebetulan pintu kamarnya setengah terbuka. Arya melihat ibunya tampak memunguti pecahan gelas di lantai kamar. Arya menghampirinya.
“Ibu kenapa? Biar saya saja yang bersihin, Bu. Nanti tangan ibu terluka,” kata Arya sambil menahan tangan ibunya yang hendak memunguti beling yang berserakan di lantai.
“Ibu tadi mau ambil air minum, tapi tahu-tahu gelasnya jatuh,” jawab Maryati.
“Coba Ibu keluar dulu. Biar kaki ibu nggak menginjak beling. Saya mau bersihin lantainya.”
Maryati menurut ketika Arya menuntunnya keluar dari kamar. Maryati duduk di ruang tengah. Arya mengambil sapu dan wadah untuk menampung sampah. Arya memastikan tidak ada pecahan beling yang tercecer. Arya menyapu ke setiap sudut lantai kamar. Tiba-tiba dia menemukan remasan kertas di kolong meja. Arya mengambilnya.
Arya membuka remasan kertas itu. Ada tulisan pada selembar kertas yang lusuh. Mata Arya memicing saat membaca tulisan tangan di kertas. 'Letakkan uang lima juta di bawah pohon ringin di depan kuburan. Awas, kalau sampai ada yang tahu. Kamu akan terima akibatnya'. Arya tercenung.
Siapa yang menulis ini? Ibukah? Atau orang lain? Batin Arya bertanya-tanya. Tulisan kertas ini berisi perintah dan ancaman layaknya surat kaleng. Tapi siapa yang memerintah dan siapa yang diancam? Tidak tertera jelas dalam tulisan ini. Arya tidak yakin ini tulisan tangan ibunya. Tidak mungkin ibunya melakukan hal seperti ini.