Rahasia Ibu

Eko Hartono
Chapter #15

Bab 14: Kemiripan Yang Janggal

Sepulang dari rumah Fajar, pikiran Arya masih bingung dan mengembara ke mana-mana. Terutama tentang dugaan bahwa anak Riyani kemungkinan anaknya Dirgo. Memikirkan ini saja membuat Arya jadi pening. Dia tahu bagaimana kelakuan almarhum bapaknya. Tapi apa setega itu? Riyani ibarat seperti anaknya sendiri. Arya juga tidak yakin Riyani semudah itu menyerahkan dirinya pada seorang laki-laki bejat.

“Berapa lama Riyani merawat ibuku?” 

“Kurang lebih satu bulan. Yang aku tahu setelah itu Riyani pergi ke Jakarta. Semua orang mengiranya pergi menyusul kamu. Tapi temannya bilang Riyani mau cari kerja. Ada yang nawarin kerjaan di Jakarta, katanya.”

“Apa dia tidak pernah pulang selama merantau di Jakarta?”

“Pulangnya ya pas bawa anak itu. Kalau nggak salah dua tahun sejak dia pergi. Bilangnya sih, dia sudah nikah di Jakarta sama seseorang, tapi kemudian cerai. Dia pulang karena ibunya meninggal dan rumahnya nggak ada yang nempatin. Tapi orang-orang nggak percaya dengan pengakuannya. Mereka yakin anak itu hasil zinah. Karena Riyani sendiri tidak bisa menunjukkan siapa laki-laki yang menghamilinya. Warga desa ada yang meminta Riyani diusir dari desa. Tapi bapakmu melarang. Bahkan pak Dirgo mengancam jika ada yang berani mengganggu Riyani, akan berhadapan dengannya. Setelah bapakmu meninggal dan anak Riyani mulai menunjukkan raut wajah yang mirip pak Dirgo, timbul dugaan kalau anak itu anaknya pak Dirgo. Tapi ada pula yang menduga itu anakmu.”

Penuturan Fajar itu kembali terngiang di telinga Arya. Rasanya Arya tidak percaya. Tapi semakin dia denial semakin ada keyakinan bila gosip itu menemukan kebenarannya. Siapa lagi yang bisa melakukan perbuatan bejat itu kalau bukan Dirgo? Ah, Arya tak sanggup menerima kenyataan ini jika itu benar terjadi.


“Nak Arya, ibu sudah siapin makan siang,” kata Maryati tiba-tiba muncul mengejutkan Arya yang sedang duduk melamun di ruang depan.

“Saya masih kenyang, Bu. Nanti saja,” jawab Arya. 

“Saya lihat nak Arya dari tadi melamun. Apa yang dipikirkan? Kangen sama orang tua di rumah ya?”

Arya tersenyum kecil. Ada perasaan kecut dalam hati. Ibunya masih belum juga teringat padanya. Percakapan di antara mereka sering membahas tentang keluarga. Bagi yang mendengarnya mungkin menganggap lucu atau malah ironis. Maryati bertanya tentang keluarga Arya, dan Arya terpaksa berbohong tentang keluarga fiktifnya. 

Tapi sedapat mungkin Arya menceritakan tentang sosok ibunya yang sesungguhnya adalah diri Maryati sendiri. Agar Maryati menyadari dan teringat lagi pada putranya. Arya menceritakan beberapa pengalaman masa kecil dan masa remajanya saat masih bersama ibunya. Mulai dari kebiasaan ibunya, kesukaan ibunya, sampai beberapa kejadian yang dialaminya dulu.

Pernah Maryati berceletuk setelah mendengar cerita Arya. “Kok ibu kamu mirip sekali sama saya.”

Ingin rasanya Arya bilang kalau memang dialah ibunya. Namun Arya menahan diri. Dia tak mau membuat ibunya bingung. Biar ibunya sendiri yang menyadarinya. Meskipun dalam hati Arya ada perasaan tertekan yang menghimpit dada. Arya tak sabar ingin memberitahu ibunya tentang fakta sebenarnya. Agar semua penantian ini berakhir.

“Kok nak Arya diam saja? Nak Arya sakit?” Teguran Maryati kembali membuyarkan lamunan Arya.

Pemuda itu jadi jengah. Dia berusaha tersenyum agar ibunya tidak mempertanyakan lagi sikapnya yang aneh.

“Ah, nggak. Saya nggak sakit kok. Oh ya, ibu ingat Riyani nggak?” ujar Arya mengalihkan pembicaraan.

“Riyani siapa?” Maryati malah balik bertanya. 

“Yang kemarin menolong ibu waktu tersesat di jalan. Mengantar ibu pulang sampai rumah.”

Maryati terdiam sebentar. Seperti sedang mengingat-ingat. Arya mengeluh dalam hati. Sepertinya ibu juga tidak ingat lagi dengan Riyani yang pernah merawatnya dulu. Arya jadi pesimis bisa mengorek keterangan dari ibunya tentang kejadian masa lalu yang dialami Riyani.

“Ah, ya, ibu ingat. Memang kenapa dengan Riyani?” ujar Maryati kemudian.

“Riyani sudah punya anak satu. Perempuan. Ibu ingat?”

Lihat selengkapnya