Arya masih terdiam. Panut jadi heran dan makin penasaran.
“Kamu mau bicara apa sebenarnya?” Panut kembali melontarkan pertanyaan.
“Paklik tahu nggak, ada orang yang tidak suka atau benci sama Ibu?” tanya Arya.
“Paklik nggak tahu. Memang kenapa kamu tanya begitu?”
“Ya mungkin saja ibu pernah ada masalah atau konflik dengan seseorang, misalnya.”
“Mbak Mar itu perempuan baik. Dia nggak pernah neko-neko dan lebih suka mengalah. Para tetangga dan semua orang di desa ini tahu, seperti apa watak ibumu. Dia nggak pernah ada masalah dengan orang lain. Bahkan mbak Mar baik dan ramah sama siapa saja. Kalau ada yang tidak suka atau benci, itu karena kelakuan suaminya.”
Arya mengangguk. Arya sependapat dengan pakliknya. Arya mengenal ibunya dari kecil. Belum pernah ibunya berkonflik dengan orang lain. Berbanding terbalik dengan suaminya, Maryati baik hati dan suka menolong orang. Kebaikannya ini diwariskan ke Arya. Bisa dikatakan sifat Arya sama dengan ibunya. Bedanya, Arya berani melawan kezaliman sedang ibunya lebih suka mengalah.
Arya merogoh saku bajunya dan menyerahkan secarik kertas yang ditemukan di kamar ibunya kepada Panut.
“Saya temukan ini di kamar Ibu. Paklik tahu, siapa yang melakukan ini sama Ibu?”
Sejenak Panut membaca tulisan di kertas itu. Keningnya berkerut-kerut. Dia lalu menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Surat kaleng ini ditujukan ke Ibu. Berarti ada orang yang memeras dan mengancam ibu. Saya khawatir dengan keselamatan ibu. Ini tandanya ada orang yang bermasalah dengan ibu. Tapi apa masalahnya? Kenapa orang itu sampai berani melakukan hal ini sama ibu. Uang lima juta itu tidak sedikit lho, Paklik. Kita harus lapor polisi!”
Arya tampak sangat geram sekali. Sementara Panut tampak lebih tenang.
“Jangan dulu lapor polisi. Kita kan belum tahu siapa pelakunya,” ucap Panut.
“Kertas ini bisa menjadi bukti, Paklik. Biar nanti polisi yang menyelidiki dan mencari pelakunya. Ibu nanti bisa bersaksi.”
“Kamu tahu bagaimana kondisi ibumu. Orang yang mengalami gangguan ingatan tidak bisa dimintai kesaksian. Keterangannya tidak bisa dijadikan alat bukti. Aku yakin ibumu pasti akan menyangkal soal surat ini dan tidak ingat pernah menerimanya. Aku juga khawatir jika masalah ini sampai diketahui orang luar akan berdampak pada kesehatan ibu kamu.”
“Terus, apa yang harus dilakukan, Paklik?”
“Kita selidiki sendiri. Nanti kalau kita tahu siapa orangnya yang melakukan ini, baru kita libatkan polisi.”
Arya mengangguk. Masuk akal juga pendapat pakliknya.
“Selain kertas ini, apa ada kertas lain yang sama seperti ini?”