Rahasia Ibu

Eko Hartono
Chapter #17

Bab 16: Kenangan Masa Kecil

Walaupun dianggap orang lain oleh ibunya, tapi Arya tetap berperilaku dan bersikap seperti anak. Arya tak segan membantu pekerjaan ibunya di rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring, dan apa saja pekerjaan rumah. Maryati sampai tidak enak hati dan meminta Arya tidak melakukannya. 

“Sudah, Nak Arya. Nggak usah repot-repot. Nak Arya di sini kan tamu.”

“Nggak apa-apa, Bu. Saya senang mengerjakannya. Saya sudah biasa melakukannya di rumah.”

“Ya, tapi saya yang nggak enak kalau dilihat tetangga. Dikira saya nggak menghormati tamu.”

“Justru saya yang nggak enak dan malu kalau sebagai tamu malah ongkang-ongkang kaki. Nanti saya ditegur sama atasan saya. Ibu mau saya dipecat dari pekerjaan saya?”

“Ya nggak sih, tapi...?”

“Sudah, ibu tenang saja. Saya senang mengerjakannya. Lagian saya punya banyak waktu luang. Saya tinggal di rumah ini tentu juga harus ikut menjaga kebersihan rumah ini. Masak petugas kesehatan orangnya jorok. Itu namanya nggak konsisten atau sumbut kata orang Jawa. Iya, kan, Bu?”

Maryati akhirnya tak melarang lagi Arya beres-beres rumah. Maryati malah senang, karena sejak Arya tinggal di rumah ini, keadaan rumah jadi lebih bersih dan rapi. Arya juga rajin menyapu halaman, merapikan tanaman, dan menata pagar, sehingga halaman jadi tampak indah dipandang. 

Ketika Arya sedang bekerja, Maryati membuatkan minuman dan makanan kecil. Arya jadi bersemangat. Taman bunga milik Maryati yang tadinya biasa saja, kini terlihat lebih indah dan estetik. Arya membuatkan kolam ikan kecil dan pancuran air di tengah taman. Maryati sangat senang sekali.

Siang itu Maryati pamit keluar sebentar mau ke warung. Arya sendirian di rumah. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari dalam kamar Maryati. Arya menuju ke kamar ibunya. Terlihat ponsel ibunya sedang dicas di atas meja. Arya menghampirinya. Baru saja mau diangkat, ponsel itu sudah keburu mati. Arya sempat membaca nama yang menelepon. Panut.

Arya hendak balik keluar, tiba-tiba matanya menangkap remasan secarik kertas di keranjang sampah dekat meja. Arya mengambilnya dan membukanya. Surat kaleng sama seperti yang ditemukannya kemarin. Tapi kali ini isinya beda. Di kertas itu tertulis kalimat berbunyi; 'aku punya bukti atas perbuatanmu pada suamimu. Jika kamu tidak menuruti permintaanku, maka aku akan menjebloskanmu ke dalam penjara.'

Arya tertegun. Dalam benaknya timbul berbagai pikiran tak menentu. Apa artinya ini? Apa yang sebenarnya telah dilakukan Ibu? Arya jadi makin penasaran. Teka teki surat kaleng ini membawanya pada satu dugaan; orang yang memeras ibunya ini mengetahui apa yang telah dilakukan ibunya atas almarhum suaminya. 

Maryati pulang dari warung. Dia memanggil Arya.

“Nak Arya!”

Arya buru-buru masukkan kertas itu ke saku bajunya dan keluar dari kamar. Maryati sudah menuju ke dapur. Dia tidak melihat Arya keluar dari kamarnya. Ketika kembali ke ruang dalam Arya sudah berada di ruang tengah. 

“Ibu sudah pulang?” ujar Arya.

“Ya. Saya tadi habis beli ikan nila. Nak Arya suka kan ikan nila disantan pedas?” tanya Maryati.

Lihat selengkapnya