Arya pergi ke kuburan desa. Dalam surat kaleng yang ditemukan beberapa waktu lalu si pemeras minta uangnya diletakkan di bawah pohon ringin depan kuburan. Tapi setiba di sana Arya tidak melihat ada siapa pun. Di bawah pohon ringin terlihat beberapa takir atau wadah terbuat dari daun pisang bekas sajen. Sebagian warga desa ini masih percaya pada kepercayaan animisme.
Arya sudah memeriksa di sekitar pohon ringin. Tak ditemukan uang. Suasana di areal pekuburan tampak sepi. Letak kuburan ini agak jauh dari pemukiman warga, tapi berada di pinggir jalan desa. Meskipun terpasang lampu penerangan di pintu masuk kuburan, namun bagi orang yang ciut nyali, kuburan ini terkesan wingit dan angker. Arya tidak takut karena dia tidak percaya dengan segala hal berbau mistik.
Arya jadi gelisah karena tak menemukan ibunya di tempat itu. Arya lalu menelepon Panut.
“Halo, Paklik. Apa ibu ada di situ?” tanya Arya begitu hubungan tersambung.
“Nggak ada. Memang ke mana ibu kamu?” sahut Panut ganti bertanya.
Arya lalu menceritakan kejadiannya. Dia pergi ke masjid untuk shalat maghrib, ketika pulang ibunya tidak ada di rumah. Dia mengira ibunya pergi ke kuburan hendak menyerahkan uang ke orang yang memerasnya. Arya langsung pergi ke kuburan, tapi ternyata ibunya juga tak ada.
“Ya, sudah. Kamu tunggu di situ. Aku akan susul kamu,” kata Panut menutup sambungan.
Arya menunggu kedatangan pakliknya. Arya duduk di atas motornya di pinggir jalan. Suasana di sekitar sunyi senyap. Jalan desa yang melintasi kuburan ini jarang dilewati kendaraan. Hanya pada siang hari orang-orang melewati jalan ini menuju ke sawah. Arya merasakan angin malam yang dingin menusuk kulit.
Tiba-tiba terdengar samar-samar suara orang menangis. Arya tercekat. Arya menajamkan pendengarannya. Suara tangis perempuan. Datangnya dari arah kuburan. Bulu kuduk Arya merinding. Cerita tentang hantu yang pernah didengarnya merasuk dalam pikirannya. Arya berusaha membuang jauh rasa takut. Ini bukan suara kuntilanak atau hantu, kata hatinya meyakinkan diri sendiri.
Suara tangis itu makin jelas terdengar terbawa oleh angin. Arya memandang ke arah kuburan. Terlihat samar sosok perempuan duduk di antara barisan nisan. Arya penasaran. Arya memberanikan diri menghampirinya. Jantungnya berdetak kencang. Tak dipungkiri ada rasa takut menyerangnya, namun pikiran rasional mampu mengalahkannya.
Setelah agak dekat, cahaya lampu dari pintu gerbang cukup memperjelas sosok perempuan itu. Dari baju yang dipakainya Arya mengenali kalau perempuan itu adalah ibunya. Maryati duduk bersimpuh di depan sebuah makam yang terbuat dari batu marmer. Maryati menangis tersedu-sedu sambil tangan kanannya mengelus batu nisan. Di batu nisan tertulis nama: DIRGO ANGGORO.
Sejak pulang ke rumah Arya belum pernah mengunjungi makam ayahnya. Pakliknya bilang ayahnya dikubur di kuburan desa ini. Dan sekarang Arya baru tahu. Tapi yang membuatnya heran, kenapa ibunya malam-malam mendatangi kuburan ini. Apa maksudnya? Dan kenapa beliau menangis di depan makam suaminya yang kejam?
“Ibu? Kenapa menangis di sini?” ujar Arya menegur ibunya.
Maryati tersentak dan spontan menoleh. Dia bangkit berdiri memandang Arya tajam. Sisa air matanya masih terlihat membasahi pipi. Dengan suara bergetar dia berkata, “Arya, kenapa kamu tidak bilang bapakmu sudah meninggal?”
Ganti Arya yang tersentak kaget. Ibu menyebut namaku? Apakah Ibu sudah ingat sama aku? Batin Arya diliputi perasaan tidak karuan. Antara terharu dan senang.
“Ibu sudah ingat aku?” Arya bertanya untuk meyakinkan pendengarannya tidak salah.
Maryati diam tertegun. Untuk beberapa saat dia menatap Arya seksama. Kedua kakinya goyah dan badannya agak limbung. Sebelum tubuhnya jatuh, Arya segera menangkapnya. Maryati memejamkan mata. Pingsan.