Esok paginya, Maryati masih berbaring di kamar. Kejadian semalam tampaknya berpengaruh pada kesehatannya. Badannya demam. Arya memeriksa tensi darahnya. Cukup tinggi. Arya menawarkan mengantar berobat ke dokter, tapi ibunya menolak. Arya lalu memberinya obat pereda demam dan vitamin.
Arya sempat bertanya, apa yang dilakukan ibunya semalam di kuburan. Maryati menjawab tidak tahu. Dia tidak ingat apa-apa. Dia juga tidak ingat dengan ucapannya semalam. Padahal Arya berharap ibunya sudah ingat dengan dirinya. Ada secercah harapan ibunya sembuh dari penyakitnya.
Namun, semua harapan itu menguap. Arya agak sangsi, apakah ibunya benar-benar tidak ingat atau sengaja berbohong untuk menutupi kenyataan sebenarnya. Arya melihat beberapa kejanggalan dari perilaku ibunya. Namun, Arya tak mau menekan ibunya. Pada saatnya, fakta dan kebenaran akan menemukan jalannya.Tapi yang jelas semalam Arya menemukan uang lima juta di kantong baju ibunya. Hal itu seperti membenarkan adanya pemerasan dan rahasia yang disembunyikan Ibu sehubungan dengan kematian suaminya.
Arya minta ibunya untuk beristirahat. Biar dirinya yang mengurus rumah. Maryati merasa tidak enak dan mau memanggil Marni, istri Panut, buat beberes rumah selama dirinya sakit. Tapi Arya memaksa. Dirinya yang justru tidak enak, karena sebagai tamu tidak berbuat apa-apa. Toh, selama ini dia sudah terbiasa membantu Maryati. Anggaplah ini sebagai balas budi. Maryati akhirnya mengiyakan.
Arya memasak bubur sup ayam. Kebetulan di kulkas sudah ada bahan-bahannya. Selama ikut kapal pesiar, Arya banyak bergaul dengan para koki di dapur. Mereka juga banyak yang berasal dari Indonesia. Arya belajar beberapa menu masakan. Jadi sedikit banyak dia bisa memasak. Hasilnya lumayan. Mungkin bakat memasak menurun dari ibunya.
Setelah matang Arya mengantarkan ke kamar ibunya.
“Ibu, ini saya buatkan bubur sup ayam. Biar ibu cepat sehat lagi,” kata Arya lalu meletakkan nampan berisi semangkok bubur ayam dan segelas air putih hangat di atas meja.
Maryati dibuat takjub.
“Aduh, jadi ngerepotin. Terima kasih, Nak Arya. Kamu bisa masak rupanya?”
“Iya, Bu. Kebetulan selama kerja di kapal... eng, maksudnya di rumah sakit saya suka masak sendiri. Saya belajar sama ibu saya dan sama temen saya yang kerja di restoran.” Arya hampir keceplosan menyebut kerja di kapal pesiar, tapi buru-buru meralatnya. Untung ibunya tidak curiga.
“Oh, begitu. Ibu kamu pintar masak?”
“Iya, Bu. Saya suapin ya, Bu.”
“Nggak usah. Saya bisa sendiri.”
Arya mengangsurkan mangkok bubur ayam ke ibunya. Maryati yang duduk di tepi ranjang menerimanya.
“Kamu nggak ikut makan?”
“Saya sudah makan duluan. Ayo, ibu makan. Kalau nggak enak, bilang aja nggak apa-apa, Bu.”
“Ibu cicipin, ya.”