Malam itu, Arya mendatangi kuburan desa. Dia sengaja datang lebih awal dan sembunyi di balik pepohonan tak jauh dari pohon Beringin. Suasana sepi senyap. Arya menengok jam tangannya. Pukul delapan kurang sepuluh menit. Belum ada tanda-tanda orang itu datang. Sementara puluhan nyamuk berdenging di sekitarnya. Arya tetap bertahan.
Tiba-tiba dari ujung jalan sisi timur muncul seseorang berpakaian serba hitam. Dari tempatnya bersembunyi Arya menangkap bayangan seorang perempuan karena rambutnya yang panjang. Tapi belum tampak wajahnya. Perempuan itu menuju ke pohon Beringin sisi pintu masuk kuburan. Perempuan itu memeriksa bagian bawah pohon.
Perempuan itu terlihat gusar karena tak menemukan uang. Tanpa dia sadari Arya mendekatinya dari arah belakang. Arya menarik pundak perempuan itu dan membalikkan badannya.
“Ketahuan kamu sekarang!” seru Arya.
Perempuan itu kaget dan terbelalak melihat Arya. Begitu pun Arya juga kaget.
“Riyani?!”
Riyani yang tertangkap basah jadi panik. Dia berusaha kabur, tapi Arya segera mencekal tangannya.
“Lepaskan!” Riyani memberontak, tapi tenaganya tidak cukup kuat melawan kekuatan Arya.
“Jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu memeras ibuku?” ujar Arya dengan nada bergetar karena emosi.
“Aku tidak memeras ibumu.”
“Jangan bohong! Aku sudah tahu semuanya. Aku menemukan kertas berisi ancaman dan perintah di kamar ibuku yang menyuruh ibuku untuk memberikan uang sebesar lima juta rupiah. Kamu ke sini untuk mengambil uang itu. Iya, kan?”
Riyani menggelengkan kepalanya. Matanya merebak dan tangisnya kemudian pecah. Arya tercekat. Tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak jatuh iba. Dia tetap mencekal tangan Riyani erat.