Malam makin larut. Udara semakin dingin terbawa angin. Arya dan Riyani masih duduk di batu besar dekat pohon beringin. Suasana sunyi senyap. Hanya derik jangkerik dan serangga malam terdengar. Deretan batu nisan di area kuburan desa tegak membisu.
Arya masih penasaran dengan pengakuan Riyani. Wanita itu baru saja menceritakan asal usul putrinya. Dia belum menceritakan alasan memeras ibunya. Arya kembali bertanya.
“Terus, kenapa kamu memeras ibuku?”
“Ada satu rahasia ibumu yang mungkin tidak diketahui orang-orang, kecuali paklik Panut. Setelah bapakmu berubah baik padaku, aku pun tidak takut lagi datang ke rumahmu. Aku sering datang ke rumahmu bertemu ibumu. Ketika pak Dirgo jatuh sakit dan dirawat di rumah, aku membantu ibumu merawatnya. Sikap bapakmu tidak pernah berubah pada ibumu. Dia sering marah-marah dan mencaci ibumu. Terkadang aku kasihan melihat ibumu. Pernah bapakmu berkata tidak akan mewariskan semua hartanya kepada ibumu jika meninggal. Dia akan berikan pada orang lain. Entah, apakah karena sakit hati oleh perkataan suaminya, ibumu lalu melakukan tindakan nekad....”
“Apa yang dilakukan ibuku?”
“Dia menaruh racun dalam minuman bapakmu.”
Arya terkejut. “Kamu jangan bohong!”
“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Ibumu tidak tahu aku berdiri di balik pintu dapur dan merekam dengan ponsel saat dia membuat minuman. Setelah minum bapakmu langsung sekarat dan dari mulutnya keluar buih. Ibumu ketakutan dan menelepon paklik Panut. Tak berapa lama paklikmu datang dan sempat bisik-bisik dengan ibumu. Paklik Panut lalu membersihkan semuanya. Paklik Panut memanggil seorang dokter untuk memeriksa pak Dirgo. Dia lalu membuat surat keterangan kalau pak Dirgo meninggal karena serangan jantung dan gagal ginjal. Aku melihat paklik Panut memberikan amplop berisi uang pada dokter itu sebelum pulang.”
Arya terdiam kelu. Pengakuan Riyani ibarat palu godam yang memukul dadanya.
“Bu Maryati sempat panik dan ketakutan ketika datang Irma yang melapor ke polisi meminta untuk dilakukan otopsi. Bu Maryati shock berat hingga jatuh pingsan. Dan saat siuman Bu Maryati berubah seperti orang linglung. Dia lupa ingatan. Dan dokter menyatakan bu Maryati mengalami demensia. Tapi aku nggak yakin dia hilang ingatan. Bu Mar hanya berpura-pura untuk menghindari pemeriksaan polisi!” tandas Riyani.
Kembali Arya dibuat terkejut oleh pernyataan Riyani. Dia tidak percaya. Tapi hati kecilnya juga tidak meragukan tuduhan Riyani. Apa yang dikatakan Riyani cukup masuk akal. Selama ini Arya sudah curiga ibunya hanya bersandiwara. Dia tidak benar-benar demensia.
####
Arya pulang dan mendapati ibunya sudah tidur. Dia tidak tega membangunkannya. Dia lalu duduk di ruang tengah. Merenungkan kembali pembicaraan dengan Riyani tadi. Setelah mendengar semuanya dari Riyani, dia tak sampai hati menghukum wanita itu. Apa yang dilakukan Riyani memang salah, tapi itu karena didesak oleh keadaan.
“Aku minta maaf. Aku sadar perbuatanku ini salah, tapi aku tidak punya cara lain mengatasi masalahku. Ini semua semata demi Arimbi. Silakan kalau kamu mau laporkan aku ke polisi. Tapi tolong pikirkan nasib Arimbi. Biar bagaimana dia adikmu, Mas.”
Kata-kata Riyani itu terasa menohok Arya. Hati nuraninya tak sanggup menyakiti wanita yang dicintainya itu.
“Aku tidak akan melaporkanmu pada polisi. Aku bisa memaafkanmu,” kata Arya.
Hati Arya hancur menghadapi kenyataan ini. Ibu yang selama ini dibanggakan dengan kebaikan dan kelembutan hatinya ternyata tega membunuh. Mungkin bisa dimaklumi perbuatannya didasari tekanan batin yang berat. Seumur hidup perkawinannya didera penderitaan dan kepahitan. Selemah-lemahnya manusia jika terus diinjak-injak pasti akan melawan.