Rahasia Ibu

Eko Hartono
Chapter #23

Bab 22: Berdamai

Arya memasuki kamar ibunya. Tampak Maryati duduk di tepi ranjang. Pandangannya kosong menerawang ke luar lewat jendela. Arya menghampirinya dan bersimpuh di depan ibunya. Arya mengusap air mata yang membasahi pipi. 

“Ibu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti hati ibu. Aku menyayangi ibu. Aku ingin berbakti pada ibu. Aku ingin Ibu yang dulu kembali. Aku ingin Ibu mengingatku,” ucap Arya sambil terisak menahan haru.

Maryati diam. Pandangannya tak beralih. Suasana beberapa saat hening. Beku. Arya masih duduk bersimpuh. Dia seperti menunggu sepatah dua patah kata keluar dari mulut ibunya. Tapi tidak ada suara yang keluar. Entah, apakah ibunya masih marah dengan kejadian tadi. 

“Sekali lagi, maafkan aku, Bu. Terlepas ibu ingat atau tidak ingat lagi aku, maukah ibu menerima aku sebagai anak? Izinkan aku memanggilmu ibu?” Arya memecah keheningan dengan sebuah permohonan.

Maryati mengalihkan pandangannya. Menatap Arya. Matanya berkaca-kaca. 

“Maafkan saya juga. Ibu tidak bermaksud tidak mau mengakuimu. Tapi sungguh, ibu benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ibu tidak membencimu. Ibu juga menyayangimu. Selama kamu di sini, saya sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Beberapa hari ini saya sering bermimpi bertemu dengan anak laki-laki. Dia mirip sekali denganmu. Apa memang benar saya punya anak? Tapi naluri saya mengatakan dia memang anakku. Semoga itu benar,” tutur Maryati. 

Arya tercekat. Ada secercah harapan tiba-tiba terbit dalam hatinya. Pernyataan ibunya itu menyiratkan satu hal. Naluri seorang ibu tidak pernah salah. Apa yang dikatakan ibunya itu adalah sebuah naluri. Ibu mulai terhubung dengan masa lalunya.

“Ibu, bagaimana kalau ibu periksa ke rumah sakit. Hanya untuk memastikan kondisi kesehatan ibu yang sebenarnya. Ibu mau kan?” ujar Arya kemudian membujuk ibunya.

Wanita itu terdiam sesaat. Sejurus kemudian mengangguk. 

Arya sangat senang. Dia mencium kedua tangan ibunya dengan wajah berbinar. 

Arya lalu menemui Panut dan memberitahu kalau ibunya mau diajak periksa ke rumah sakit. Kali ini Panut tidak menolak. Dia memahami keinginan Arya. Pemeriksaan medis secara mendalam akan memastikan kondisi Maryati yang sebenarnya. Tak ada tendensi apa-apa selain untuk kebaikan semuanya. Maryati tidak terus diliputi kebingungan, pun Arya tidak terus diliputi keraguan atas kondisi ibunya. 

“Baiklah kalau memang itu harus dilakukan. Aku hanya menurut. Asal kamu juga siap menerima apa pun hasilnya. Satu lagi, aku tidak mau lagi ada masalah yang muncul. Apalagi mengungkit apa yang pernah terjadi di masa lalu. Aku sudah lelah menghadapi semua ini,” kata Panut.

“Iya, Paklik. Seperti yang saya bilang tadi, saya juga ingin mengakhiri semua ini. Saya tidak ingin lagi ada masalah baru. Saya ingin semuanya kembali damai,” tukas Arya.

Sebelumnya Arya memang sudah menyatakan di depan Panut untuk tidak mempermasalahkan kejadian di masa lalu. Karena semua sudah terjadi dan berlalu. Arya ingin berdamai dengan masa lalu. Tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Hidup terlalu berharga dilewatkan dengan urusan dan hal-hal yang tidak diperlukan lagi.

“Lalu, bagaimana dengan soal Riyani dan Irma? Mereka akan terus menjadi masalah yang membayangi hidup kalian?” cetus Panut.

Lihat selengkapnya