Rahasia Ibu

Eko Hartono
Chapter #24

Epilog

Pagi itu...

Arya duduk di teras samping rumah. Bersanding dengan segelas kopi dan sepiring singkong rebus yang masih panas. Arya asyik memperhatikan ibunya yang sedang menyirami tanaman bunga kesayangannya di halaman. Wajah ibunya tampak cerah ceria. Secerah sinar matahari pagi yang menyepuh rambut putihnya menjadi keperakan.

Belakangan ini Arya menyaksikan ibunya yang beda dari biasanya. Lebih bersemangat dan ceria. Seperti tak ada lagi beban yang menggayuti hidupnya. Tak ada persoalan yang memenati pikirannya. Langkahnya ringan seperti berjalan di atas awan kedamaian. Gerakannya halus seperti berenang di danau yang tenang. 

Arya tadinya kepikiran dengan hasil MRI ibunya. Vonis demensia permanen memupus harapannya melihat ibunya bisa hidup normal. Arya merasa kehilangan sosok Ibu yang pernah dikenalnya. Ibunya benar-benar sudah lupa padanya. Sudah mengubur putra satu-satunya ke lubang gelap memori otaknya. Arya sangat sedih. 

Namun, dia mencoba ikhlas dan berpikir bijak. Menyaksikan ibunya menjalani hidupnya dengan dimensi baru sebagai penyandang demensia justru membuka mata hatinya. Ibunya terlihat bahagia dan damai dengan kehidupannya sekarang. Tak ada lagi rasa was-was dan takut menghadapi kekerasan dan kekejaman suaminya. Dia telah diangkat dari neraka hidupnya yang sangat kelam. 

Baru sekarang Arya melihat ibunya menjalani hidup yang benar-benar hidup. Tidak ada lagi tangis kesedihan. Tak ada lagi jerit kesakitan. Tak ada rintih kepedihan. Tak ada pilu derita yang mengikis batin dan jiwanya. Ibunya menjadi manusia baru yang merdeka dan bahagia. Bukankah keadaan seperti sekarang yang pernah diinginkannya? Arya berusaha mengarifi kenyataan ini. 

“Nak Arya!” Terdengar suara ibunya memanggil namanya.

Arya tersadar dari lamunan. Dia melihat ibunya melambaikan tangan memintanya datang.

“Sini. Bantu ibu!”

Arya bangkit dari tempatnya. Berjalan menghampiri ibunya.

“Ada apa, Bu?” tanya Arya setiba di depan ibunya.

“Tolong cabutin tanaman bunga yang sudah kering ini. Saya mau ganti dengan tanaman bunga yang baru.” 

“Memang mau diganti apa, Bu?”

“Tanaman bunga matahari.”

“Kenapa tanaman bunga matahari?”

Lihat selengkapnya