Rahasia Istri Yang Disakiti

Thariqia
Chapter #2

02 - Nafas Mulai Sesak

Pagi itu, Seeyana bangun dengan kepala berat. Matanya perih, seolah semalaman tidak benar-benar terpejam. Bayangan dua sosok di bawah payung masih melekat, datang dan pergi seperti luka yang sengaja diusik. Ia meraba sisi ranjang di sebelahnya—dingin. Ravent sudah pergi.

Di meja makan, seperti kebiasaan yang mulai terasa pahit, ada secarik kertas kecil.

Aku berangkat lebih pagi. Rapat.

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tambahan kata. Hanya kalimat pendek yang terasa lebih seperti pemberitahuan daripada perhatian.

Seeyana melipat kertas itu pelan, lalu meletakkannya kembali. Ia berdiri lama di dapur, menatap rak yang makin jarang terisi. Beras tinggal setengah, minyak goreng hampir habis, dan telur tersisa tiga butir. Ia menarik napas, lalu mengambil buku catatan kecil. Daftar belanja hari ini kembali ia coret—lagi. Ia membuat sarapan seadanya. Nasi putih, telur ceplok, dan sambal sisa semalam. Kursi di seberangnya kosong. Lagi.

Saat ia duduk, ponselnya bergetar. Bukan dari Ravent. Grup ibu-ibu komplek ramai membicarakan harga sembako yang naik. Seeyana membaca sekilas, lalu menutupnya. Ia tahu. Ia merasakannya setiap hari. Ia membereskan piring, lalu duduk di lantai dapur. Dompet ia buka. Uang kertas ia ratakan di atas ubin dingin, dihitung pelan. Jumlahnya membuat dadanya kembali mengencang. Tidak cukup untuk satu bulan penuh. Ia menatap angka itu lama, seolah berharap jumlahnya berubah jika ditatap lebih lama. Tapi kenyataan tak pernah bernegosiasi.

Siang hari, Seeyana keluar rumah menuju warung. Matahari terik, jalanan padat. Ia berjalan sambil menggenggam tas kain, berusaha mengingat apa saja yang masih bisa ditunda. Di warung, ia mengambil beras eceran, tahu, tempe, dan beberapa bumbu dasar. Saat kasir menyebutkan total harga, Seeyana terdiam sejenak sebelum menyerahkan uang.

Di jalan pulang, ia berpapasan dengan tetangga-tetangga yang mengobrol riuh. Mereka membahas suami, pekerjaan, rencana liburan kecil. Seeyana tersenyum sopan, meski dadanya terasa kosong. Tidak ada yang tahu betapa berat langkahnya hari ini.

Sampai di rumah, ia menyimpan belanjaan rapi. Keringat mengalir di pelipis, tapi ia tak langsung duduk. Cucian menunggu, lantai perlu disapu, dan makan malam harus disiapkan—meski ia tak tahu apakah Ravent akan pulang tepat waktu.

Sore menjelang ketika ponselnya bergetar. Nama Ravent muncul di layar. Jantung Seeyana berdegup cepat, ada harap kecil yang tak ingin ia akui.

“Iya, Ven?” jawabnya cepat.

“Yan,” suara Ravent terdengar terburu-buru. “Nanti aku pulang agak malam.”

Seeyana menutup mata sejenak. “Lembur lagi?”

“Iya. Jangan nunggu.”

Ia menelan ludah. “Ven… soal uang belanja”

“Yan,” potong Ravent, nada suaranya meninggi sedikit. “Nanti aja. Aku lagi rapat.”

Sambungan terputus.

Lihat selengkapnya