Rahasia Istri Yang Disakiti

Thariqia
Chapter #5

05 - Malam Itu, Semuanya Jelas

Seeyana terbangun dengan tubuh terasa berat, seolah semalaman ia memikul beban yang tak terlihat. Tempat di sebelahnya kosong. Seprai sudah dingin, rapi, seakan tak pernah disentuh. Ia duduk perlahan, menatap pintu kamar yang tertutup rapat.

Tidak ada suara. Tidak ada aroma kopi. Tidak ada sapaan pagi.

Di meja rias, secarik kertas kembali menunggu.

Aku berangkat lebih dulu. Banyak kerjaan.

Tulisan Ravent selalu sama—ringkas, tanpa emosi. Seeyana meremas kertas itu pelan, lalu meletakkannya kembali. Ia berdiri, berjalan ke dapur, dan menyalakan kompor dengan gerakan mekanis. Minyak mendesis, telur dipecahkan, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.

Pertengkaran semalam belum benar-benar selesai. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penjelasan. Hanya keheningan yang dibiarkan mengendap, seperti debu yang tak pernah dibersihkan. Ia makan sendiri. Lagi.

Di seberang meja, kursi Ravent kosong, tapi bayangannya terasa memenuhi ruangan. Setiap kata yang ia ucapkan semalam kembali terngiang lebay, drama, bikin capek. Seeyana menelan ludah, memaksa makanan turun meski tenggorokannya sempit.

Setelah membereskan dapur, ia memutuskan keluar rumah. Persediaan dapur kembali menipis. Ia mengambil tas kain, mengunci pintu, lalu berjalan menyusuri jalan kecil di kompleks. Udara pagi terasa lembap, sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan di beberapa sudut.

Di minimarket kecil dekat ujung jalan, Seeyana berdiri di rak sembako, menimbang-nimbang harga. Tangannya terulur, lalu ragu, lalu kembali menarik diri. Ia menghela napas panjang.

“Seeyana?”

Suara itu membuatnya menoleh. Victor berdiri beberapa langkah darinya, membawa keranjang belanja berisi kopi dan roti. Senyumnya hangat, tapi tidak berlebihan.

“Oh,” Seeyana terkejut kecil. “Mas Victor.”

“Kita sering ketemu di sini, ya,” katanya ringan. “Belanja pagi juga?”

“Iya,” jawab Seeyana singkat.

Victor melirik rak di depannya, lalu kembali menatap Seeyana. “Kamu kelihatan capek.”

Kalimat itu sederhana. Tidak menghakimi. Tidak memaksa. Tapi dada Seeyana mendadak terasa penuh. Ia tersenyum tipis, lebih seperti refleks. “Biasa aja.”

Victor tidak membantah. Ia hanya mengangguk, lalu membayar belanjaannya. Saat Seeyana masih menghitung uang di dompet, Victor sudah kembali berdiri di sampingnya.

“Aku antar sampai rumah?” tawarnya. “Kelihatannya berat.”

Seeyana ragu sejenak, lalu mengangguk kecil. “Terima kasih.”

Lihat selengkapnya