Rahasia Istri Yang Disakiti

Thariqia
Chapter #6

06 - Kebenaran Manipulasi

Ravent berdiri kaku di ambang pintu, seolah rumah itu tiba-tiba bukan lagi miliknya. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Seeyana menatapnya tanpa emosi yang meledak-ledak justru ketenangan itulah yang membuat Ravent gelisah.

“Kamu dari mana?” tanya Seeyana, suaranya datar.

Ravent meletakkan tasnya. “Kerja.”

“Di kafe Jalan Melati?” lanjut Seeyana, tanpa menaikkan nada.

Ravent menghela napas keras. “Aku sudah bilang, itu teman kantor.”

“Teman kantor yang kamu pegang tangannya,” balas Seeyana pelan. “Aku lihat sendiri.”

Hening jatuh. Ravent mengalihkan pandangan, lalu tertawa pendek. “Kamu dramatis. Pegang tangan sebentar doang itu apa? Kamu lebay.”

Kata itu lagi.

Seeyana mengangguk kecil. “Baik. Anggap aku lebay. Tapi kenapa kamu bohong?”

“Aku nggak bohong,” Ravent membalas cepat. “Aku cuma nggak mau ribut.”

“Kamu bohong karena kamu tahu itu salah,” Seeyana menatapnya lurus. “Dan kamu pilih menutupinya.”

Ravent melangkah mendekat, nadanya meninggi. “Yan, jangan bikin cerita sendiri. Aku kerja capek, pulang malah diinterogasi. Kamu tahu nggak rasanya punya istri yang selalu curiga?”

Seeyana tersenyum tipis. “Curiga muncul karena kebohongan, Ven. Bukan sebaliknya.”

Ravent terdiam sejenak, lalu memalingkan wajah. “Aku nggak mau ribut malam ini.”

“Tapi aku mau kejelasan,” jawab Seeyana. “Sekarang.”

“Dan kalau aku bilang nggak ada apa-apa?” tantang Ravent.

“Kalau kamu jujur,” Seeyana menarik napas, “aku masih bisa dengar. Tapi kamu memilih meremehkan perasaanku.”

Ravent mengusap wajahnya. “Kamu berubah, Yan. Dulu kamu nggak gini.”

Seeyana mengangguk lagi. “Iya. Dulu aku diam.”

Kalimat itu membuat Ravent menoleh cepat.

***

Pagi berikutnya, rumah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Ravent berangkat tanpa sarapan. Seeyana tidak menahannya. Ia duduk di meja makan sendirian, memegang cangkir teh yang sudah tak hangat.

Lihat selengkapnya