Seeyana duduk di tepi ranjang kamar tamu rumah sahabatnya, Alya. Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Lampu kamar redup, tapi matanya enggan terpejam. Pikirannya berisik, dipenuhi potongan kejadian yang belum sempat ia cerna sepenuhnya.
Ponselnya bergetar.
Nama Ravent muncul di layar. Ia menatapnya lama, lalu meletakkan ponsel kembali ke meja tanpa menjawab. Beberapa menit kemudian, layar kembali menyala.
Kamu di mana?
Seeyana menarik napas panjang. Ia tidak ingin lari, tapi juga tidak ingin kembali ke percakapan yang berujung menyalahkan. Ia mengetik pelan.
Aku aman. Aku cuma butuh waktu.
Balasan datang hampir seketika.
Kamu lebay. Pulang. Kita bicarakan baik-baik.
Ia tersenyum getir. Baik-baik versi Ravent selalu berarti ia yang harus mengalah.
Seeyana mengunci ponsel.
***
Pagi harinya, Alya menyeduh teh hangat di dapur kecil apartemennya. Seeyana duduk di kursi, memeluk cangkir dengan kedua tangan.
“Kamu kelihatan capek,” kata Alya lembut.
Seeyana mengangguk. “Aku nggak nyangka sejauh ini.”
Alya duduk di seberangnya. “Kamu nggak salah ambil jarak.”
Seeyana menatap permukaan teh yang beruap. “Aku takut dibilang istri durhaka.”
Alya tersenyum tipis. “Menjaga diri bukan durhaka.”
Kalimat itu mengendap pelan, tapi hangat.
Sementara itu, di rumah, Ravent mondar-mandir di ruang tamu. Tangannya menggenggam ponsel erat. Beberapa panggilan tak terjawab. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Ia menekan nomor ibunya.