Seeyana berdiri di depan rumahnya sendiri dengan napas tertahan. Sudah hampir seminggu ia tidak menginjakkan kaki di tempat itu. Pagar besi yang biasa ia buka tanpa ragu kini terasa seperti pembatas antara dua versi hidupnya yang lama dan yang akan ia pilih selanjutnya.
Mobil Victor berhenti di belakangnya.
“Kamu yakin mau masuk sekarang?” tanya Victor pelan.
Seeyana mengangguk. “Aku nggak bisa menghindar terus. Aku harus hadapi.”
Victor tidak ikut turun. “Aku tunggu di sini.”
Seeyana melangkah masuk sendirian.
Begitu pintu dibuka, suara di dalam rumah langsung menyambutnya—bukan suara Ravent, melainkan suara Suryani yang terdengar tajam dan penuh emosi.
“Kamu ini ke mana saja, Seeyana?”
Suryani berdiri di ruang tamu, tasnya tergeletak di sofa. Ravent duduk di sudut ruangan, wajahnya tegang, matanya menunduk. Ia tidak bangkit saat Seeyana masuk.
“Aku ke rumah teman,” jawab Seeyana tenang. “Aku sudah bilang.”
“Kamu bilang setelah kamu pergi,” bentak Suryani. “Itu namanya kabur!”
“Aku tidak kabur,” Seeyana menatapnya lurus. “Aku mengambil waktu.”
Suryani tertawa sinis. “Perempuan bersuami tidak butuh waktu. Yang kamu butuhkan itu tahu diri.”
Ravent akhirnya berdiri. “Yan, jangan bikin suasana makin panas.”
Seeyana menoleh padanya. “Aku tidak membuatnya panas. Aku cuma berhenti diam.”
Suryani melangkah mendekat. “Kamu ini istri. Tugasmu menjaga rumah tangga, bukan mempermalukan keluarga dengan drama seperti ini.”
“Bu,” Seeyana menarik napas dalam, “yang mempermalukan rumah tangga saya adalah kebohongan.”