Rahasia Istri Yang Disakiti

Thariqia
Chapter #9

09 - Setelah Pergi

Pagi datang tanpa suara yang biasa Seeyana dengar. Tidak ada langkah kaki Ravent di dapur. Tidak ada bunyi gelas diseret tergesa. Tidak ada kalimat pendek yang diucapkan sambil setengah sadar. Yang ada hanya cahaya matahari yang menembus jendela apartemen Alya dan suara kota yang samar dari kejauhan.

Seeyana membuka mata perlahan. Dadanya terasa ringan sekaligus kosong perasaan aneh yang belum bisa ia beri nama. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi ruang kecil yang kini menjadi tempat singgahnya. Tidak luas, tidak mewah, tapi sunyinya tidak menekan. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri.

Di dapur, Alya sudah bersiap berangkat kerja.

“Aku bikin roti panggang. Kopinya panas,” kata Alya sambil mengenakan tas.

“Terima kasih,” jawab Seeyana tulus.

Alya menatapnya sejenak. “Kamu mau ke mana hari ini?”

Seeyana terdiam. Pertanyaan sederhana itu menyadarkannya akan satu hal—untuk pertama kalinya, ia bebas menentukan harinya sendiri. “Aku mau cari kerja.”

Alya tersenyum kecil. “Kalau butuh apa-apa, bilang.”

Seeyana mengangguk.

Setelah Alya pergi, Seeyana duduk sendiri di meja kecil. Ia membuka ponselnya. Puluhan pesan tak terbaca dari Ravent dan beberapa panggilan tak terjawab dari Suryani. Ia tidak langsung membuka semuanya. Ia menutup layar, memilih diam—bukan sebagai pelarian, tapi sebagai perlindungan. Ia tahu, sekali ia membaca, luka itu akan terbuka lagi.

Siang hari, Seeyana duduk di sebuah kafe kecil dekat apartemen. Di hadapannya, sebuah laptop tua terbuka. Ia menelusuri lowongan pekerjaan administrasi, penjaga toko, kasir. Tidak ada yang muluk. Ia hanya ingin berdiri di atas kakinya sendiri.

Tangannya sempat gemetar saat mengisi formulir. Ada rasa takut yang menyelinap—takut gagal, takut tidak cukup, takut sendirian. Tapi ada juga sesuatu yang baru: tekad yang pelan tapi mantap.

Ponselnya bergetar.

Ravent.

Ia membiarkannya berdering. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

Yan, pulang. Kita bicarakan baik-baik. Ibu juga mau ketemu.

Seeyana menghela napas. Baik-baik lagi. Selalu setelah semuanya meledak.

Ia mengetik balasan singkat.

Aku mau bicara denganmu saja. Tanpa ibu.

Balasan datang cepat.

Lihat selengkapnya