Rahasia Istri Yang Disakiti

Thariqia
Chapter #10

10 - Titik Rawan

Malam itu, Seeyana berdiri di depan jendela apartemen Alya lebih lama dari biasanya. Lampu-lampu kota berpendar, seperti kehidupan yang terus berjalan meski dunianya sempat berhenti.

Ponselnya bergetar di tangan.

Ravent menelepon.

Ia menimbang beberapa detik sebelum mengangkat.

“Yan…” suara Ravent terdengar lebih pelan dari biasanya. Tidak defensif. Tidak tinggi. “Aku di bawah.”

Seeyana memejamkan mata.

“Aku cuma mau bicara,” lanjut Ravent cepat, seolah takut ditolak. “Kalau kamu nggak mau, aku pergi.”

Hening.

“Aku turun,” jawab Seeyana akhirnya.

Ravent berdiri di lobi, mengenakan kemeja abu-abu yang kusut. Matanya terlihat lelah bukan lelah kerja, melainkan lelah kehilangan kendali. Saat melihat Seeyana, ia berdiri tegak seolah refleks lama masih bekerja.

Mereka duduk di bangku panjang dekat pintu masuk. Tidak berhadapan. Tidak saling menyentuh.

“Aku nggak tidur,” kata Ravent lebih dulu. “Rumah itu… kosong.”

Seeyana menatap lantai. “Aku juga nggak minta kamu merasa baik-baik saja.”

Ravent mengangguk. “Aku salah.”

Dua kata itu sederhana. Tapi cukup membuat dada Seeyana menegang.

“Aku salah karena bohong,” lanjut Ravent. “Dan karena bikin kamu merasa kecil.”

Seeyana menoleh. Wajah Ravent serius. Tidak membela. Tidak memutar.

Lihat selengkapnya