Seeyana menutup pintu apartemen dengan punggungnya sendiri. Bunyi kunci beradu pelan, tapi getarnya terasa sampai ke dada. Ia berdiri di sana beberapa detik, menenangkan napas yang belum sepenuhnya kembali normal.
Ciuman singkat itu terlalu singkat untuk disebut pelarian, terlalu dekat untuk diabaikan masih membekas. Bukan di bibirnya, melainkan di kepala. Ingatan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Ia melangkah ke kamar, duduk di tepi ranjang, lalu menunduk. Tangannya gemetar. Seeyana menyadari sesuatu yang membuatnya takut: ia tidak hanya terluka ia juga rindu. Dan rindu adalah celah paling berbahaya.
Ponselnya bergetar.
Ravent:
Aku sudah sampai rumah. Terima kasih sudah mau turun tadi.
Seeyana menatap layar itu lama. Ia tidak membalas. Bukan karena tak peduli, melainkan karena terlalu banyak yang harus ia jaga agar tidak runtuh lagi.
Pagi datang dengan hujan tipis. Seeyana berangkat lebih awal untuk wawancara kerja di sebuah percetakan kecil. Gedungnya sederhana, lorongnya sempit, tapi bau kertas dan tinta membuatnya merasa untuk pertama kalinya ada kemungkinan hidup lain.
Wawancara berjalan singkat. Tidak ada janji besar. “Kami kabari,” kata pemiliknya ramah.
Di luar gedung, Victor menunggunya di mobil.
“Gimana?” tanyanya.
“Belum tahu,” jawab Seeyana jujur. “Tapi setidaknya aku datang.”
“Itu sudah cukup,” kata Victor sambil tersenyum kecil.
Di perjalanan, hujan turun lebih deras. Mereka berhenti di sebuah kafe kecil. Duduk berhadapan, minum kopi panas, tanpa banyak kata. Keheningan di antara mereka tidak canggung tidak menuntut.
“Kamu kelihatan goyah,” kata Victor akhirnya, hati-hati.
Seeyana menghela napas. “Aku ketemu Ravent semalam.”
Victor tidak langsung bereaksi. “Dan?”
“Dia minta kesempatan,” jawab Seeyana pelan. “Dan aku… hampir lupa kenapa aku pergi.”