Hujan turun sejak sore, membuat kota terasa lebih sempit dari biasanya. Seeyana menatap jendela apartemen, menyeka embun dengan punggung tangan. Hari itu melelahkan bukan karena pekerjaan, melainkan karena pikiran yang tak berhenti bergerak.
Ponselnya bergetar.
Ravent:
Aku di bawah. Aku cuma mau ngobrol.
Seeyana memejamkan mata. Ia tahu, setiap pertemuan kini berada di ambang—sedikit terlalu dekat, sedikit terlalu rawan. Tapi ia juga tahu, menghindar terus-menerus hanya akan menunda sesuatu yang tak terelakkan.
Aku turun, balasnya.
Di lobi, Ravent berdiri dengan jaket gelap dan rambut sedikit basah. Wajahnya tegang, tapi matanya mencari-cari. Saat melihat Seeyana, bahunya turun sejenak—seolah baru ingat cara bernapas.
“Makasih,” katanya pelan.
Mereka keluar bersama. Hujan memaksa langkah mereka mendekat, berlindung di bawah kanopi. Tidak ada tujuan jelas; hanya berjalan, menyusuri trotoar yang berkilau oleh lampu jalan.
“Aku ngomong sama ibu,” kata Ravent akhirnya. “Aku bilang ini urusan kita.”
Seeyana menoleh. “Dan?”
“Beliau marah,” jawab Ravent jujur. “Tapi aku nggak mundur.”
Ada jeda. Seeyana merasakan sesuatu menghangat di dadanya bukan kemenangan, melainkan pengakuan yang terlambat tapi nyata.
“Aku nggak minta kamu jadi sempurna,” kata Seeyana. “Aku minta konsisten.”
Ravent mengangguk. “Aku belajar.”
Mereka berhenti di depan sebuah kafe yang sudah tutup. Hujan semakin rapat, suara rintiknya menutup kata-kata yang tak terucap. Ravent berdiri terlalu dekat. Seeyana merasakan hangat tubuhnya, napas yang teratur tapi berat.