Pagi itu terasa berbeda. Bukan karena hujan yang berhenti, atau cahaya matahari yang masuk lebih berani ke apartemen Alya, melainkan karena keheningan di kepala Seeyana. Tidak riuh. Tidak berisik. Hanya sunyi yang penuh makna. Ia berdiri di depan wastafel, membasuh wajah. Bayangan semalam masih ada—hangat, dekat, dan rapuh. Tapi ia tahu, satu malam tidak menghapus garis yang sudah ia tarik.
Ponselnya bergetar.
Nama Suryani.
Seeyana menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat. “Iya, Bu.”
“Kamu pikir aku nggak tahu?” suara Suryani tajam, tanpa salam. “Ravent pulang pagi.”
Seeyana menghela napas pelan. “Kami bicara.”
“Bicara?” Suryani tertawa sinis. “Perempuan seperti kamu itu tahu diri sedikit. Sudah pergi, masih berani main perasaan.”
Kalimat itu menghantam, tapi Seeyana tidak lagi goyah. “Bu, urusan saya dan Ravent bukan untuk dipelintir.”
“Dip elintir?” suara Suryani meninggi. “Kamu itu istri. Kalau mau kembali, kembali baik-baik. Jangan setengah-setengah.”
Seeyana menutup mata sejenak. “Saya tidak setengah-setengah. Saya jelas.”
“Jelas apa?” desak Suryani.
“Jelas menjaga diri,” jawab Seeyana tenang. “Dan itu tidak bisa saya lakukan kalau terus ditekan.”
Suryani terdiam sesaat, lalu suaranya berubah dingin. “Kalau kamu keras kepala, jangan harap aku membela kamu di depan keluarga.”
“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Seeyana. “Saya tidak butuh pembelaan yang meniadakan saya.”
Telepon terputus.
Seeyana meletakkan ponsel. Tangannya sedikit gemetar, tapi punggungnya tegak. Ia tahu, ini harga dari batas yang ia pasang.
Siang hari, Seeyana mendapat panggilan dari percetakan kecil tempat ia melamar. Ia menjawab dengan napas tertahan.