Ravent datang sore itu tanpa jaket, tanpa bunga, tanpa alasan yang dibuat-buat. Ia berdiri di depan pintu apartemen Alya dengan wajah yang lebih tenang dari pertemuan-pertemuan sebelumnya bukan karena yakin, melainkan karena siap menerima apa pun.
Seeyana membuka pintu dan membiarkannya masuk. Tidak ada pelukan. Tidak ada senyum. Hanya dua orang dewasa yang akhirnya memilih duduk berhadapan.
“Aku datang untuk dengar,” kata Ravent lebih dulu. “Bukan untuk membela diri.”
Seeyana mengangguk. Ia menyeduh teh, lalu duduk. Tangannya stabil. Suaranya juga.
“Aku nggak mau mengulang siklus,” katanya. “Kalau kita bicara hari ini, itu harus menghasilkan kesepakatan. Bukan janji.”
Ravent menelan ludah. “Baik.”
Seeyana menatapnya lurus. “Pertama. Aku tetap tinggal terpisah untuk sementara. Bukan hukuman, ini ruang.”
Ravent mengangguk. “Berapa lama?”
“Selama yang aku butuhkan,” jawab Seeyana. “Dan itu tidak bisa kamu tawar.”
Ravent menerima kalimat itu tanpa membantah. “Kedua?”
“Kedua,” lanjut Seeyana, “aku mau kejujuran penuh. Tidak ada ‘teman kantor’ yang disembunyikan. Tidak ada ponsel yang dibalik. Kalau ada kebohongan lagi, kita berhenti.”
Ravent menarik napas dalam. “Aku setuju.”
“Ketiga,” suara Seeyana mengeras sedikit, “ibumu tidak lagi menjadi penekan. Kamu yang bertanggung jawab menghentikannya.”
Ravent terdiam lebih lama. Lalu mengangguk. “Aku akan pasang batas.”
Seeyana memperhatikan wajahnya. Ia mencari tanda ragu dan menemukannya. “Kamu yakin?”