Hari pertama Seeyana bekerja dimulai dengan bau kertas dan dengung mesin cetak yang konstan. Percetakan kecil itu tidak ramai, tapi hidup. Tangan Seeyana bergerak kaku di awal—mengurutkan pesanan, mengecek cetakan, mencatat jumlah. Tidak glamor. Tidak mudah. Tapi nyata. Ia menyukai rasa lelah yang datang dari usahanya sendiri.
“Kalau capek, bilang,” kata pemilik percetakan, Pak Hendra, sambil menunjuk kursi di sudut. “Di sini kita kerja rapi, bukan ngebut.”
Seeyana mengangguk. “Siap, Pak.”
Saat jam istirahat, ia duduk di bangku luar, membuka bekal sederhana. Ponselnya bergetar.
Ravent:
Aku sudah bicara sama ibu. Aku nggak ke sana minggu ini.
Seeyana membaca pesan itu tanpa langsung membalas. Dulu, kabar seperti ini akan membuatnya lega berlebihan. Sekarang, ia mencatatnya sebagai satu langkah bukan tujuan akhir.
Ia membalas singkat.
Baik. Terima kasih sudah konsisten hari ini.
Tidak ada emotikon. Tidak ada manis-manis.
Di kantor, Seeyana mulai menemukan ritmenya. Ia belajar cepat, bertanya saat perlu, dan diam saat harus fokus. Ada kepuasan kecil setiap kali lembaran tercetak rapi. Saat pulang, tubuhnya pegal, tapi kepalanya ringan.
Sore itu, Victor mengirim pesan singkat.
Semoga hari pertamamu lancar.
Seeyana tersenyum. Lumayan. Aku belajar banyak.
Tidak ada undangan. Tidak ada ketergantungan. Hanya kabar baik yang dibagi seperlunya.
***
Di sisi lain kota, Ravent duduk di ruang rapat, berhadapan dengan timnya. Pekerjaan menumpuk. Ponselnya bergetar beberapa kali panggilan dari nomor lama yang kini ia kenali terlalu baik. Ia menutup layar, membalik ponsel lalu berhenti. Ia teringat syarat Seeyana. Ia menghela napas, lalu menolak panggilan itu dan menuliskan pesan singkat yang tegas. Setelah itu, ia meletakkan ponsel terbuka di meja, seolah menantang dirinya sendiri untuk tidak kembali pada kebiasaan lama.
Rekan kerjanya melirik. “Nggak biasa lihat kamu nolak telpon.”
Ravent mengangkat bahu. “Lagi belajar.”
Belajar kehilangan kendali.
Malam hari, Seeyana pulang lebih lambat. Alya sudah menyiapkan makan malam sederhana. Mereka makan sambil bertukar cerita pendek.