Rahasia Istri Yang Disakiti

Thariqia
Chapter #16

16 - Tarikan

Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang nyaris menipu. Tidak ada ledakan. Tidak ada pertengkaran besar. Justru ketenangan itulah yang membuat Seeyana waspada. Di percetakan, ia mulai diberi tanggung jawab lebih. Mengatur jadwal cetak, berkomunikasi dengan klien kecil, memastikan kualitas sebelum barang dikirim. Tangannya tak lagi gemetar saat menegur kesalahan. Suaranya terdengar lebih yakin, bahkan di telinganya sendiri.

“Kamu cepat nangkap,” kata Pak Hendra suatu siang. “Jarang.”

Seeyana tersenyum. “Karena saya harus.” Ia menyadari satu hal sederhana: ketika hidup tidak lagi menunggu orang lain berubah, energi bisa dipakai untuk tumbuh.

***

Ravent, di sisi lain kota, hidup dalam ketenangan yang lebih sunyi. Rumah terasa terlalu besar ketika hanya dihuni oleh jadwal dan kewajiban. Ia mengisi malam dengan pekerjaan, olahraga, dan sesekali duduk diam terlalu lama. Ia menepati kesepakatan. Tidak datang tanpa izin. Tidak menelepon larut. Tidak menuntut. Justru di situlah tarikan itu muncul keinginan untuk melanggar batas yang ia setujui sendiri.

Ponselnya bergetar. Pesan dari ibunya, panjang dan penuh tanda seru. Ia membacanya sekali, lalu menaruh ponsel terbalik. Ia memilih tidak membalas malam itu. Pilihan kecil, tapi melelahkan.

Sore hari, Seeyana menerima amplop gaji pertamanya tidak besar, tapi cukup untuk membuat dadanya hangat. Ia menyimpan sebagian, mentraktir Alya makan sederhana, lalu membeli buku catatan baru.

Bukan untuk curhat. Untuk rencana.

Di halaman pertama, ia menulis:

Hal-hal yang tidak bisa kutawar lagi.

Belum sempat ia lanjutkan, ponselnya berbunyi. Ravent.

Aku di dekat tempat kerjamu. Mau minum teh?

Seeyana menatap jam. Masih sore. Ia menimbang—antara menjaga jarak dan hidup normal.

Setengah jam, balasnya.

Mereka bertemu di warung teh kecil, bukan kafe. Duduk berhadapan tanpa kepura-puraan. Ravent tampak lebih kurus, lebih tenang.

Lihat selengkapnya