Rahasia Istri Yang Disakiti

Thariqia
Chapter #17

17 - Lepas

Hujan turun lebih deras malam itu, memukul kaca jendela dengan ritme tak sabar. Seeyana berdiri di dapur kecil, memanaskan air, ketika ponselnya bergetar.

Ravent:

Aku di depan.

Seeyana memejamkan mata. Ia tidak ingat memberi izin. Tapi ia juga tidak mengirim larangan. Jeda itulah yang membuat pintu akhirnya terbuka.

Ravent berdiri di ambang, basah, diam. Tidak ada senyum. Tidak ada pembelaan. Hanya dua pasang mata yang saling tahu: ini bukan kunjungan biasa.

“Masuk,” kata Seeyana pelan.

Pintu tertutup. Hujan meredam dunia. Di ruang sempit itu, jarak terasa lebih tipis dari batas yang mereka bangun berminggu-minggu.

“Aku dapat kabar,” kata Ravent. “Ibu bilang ke keluarga… versi yang tidak adil.”

Seeyana mengangguk. “Aku sudah dengar.”

“Aku marah,” lanjut Ravent, suaranya tertahan. “Bukan ke kamu. Ke diriku sendiri.”

Seeyana menatapnya. “Marah saja tidak cukup.”

“Aku tahu,” kata Ravent. “Makanya aku ke sini. Untuk jujur.”

Ia melangkah setengah langkah lebih dekat—lalu berhenti, menunggu. Seeyana merasakan tarikan itu lagi, lebih kuat dari sebelumnya, karena lelah dan kemarahan sering kali membuka pintu yang seharusnya dikunci.

“Kalau kamu pergi sekarang,” kata Seeyana, “aku tidak akan mengejarmu.”

Ravent mengangguk. “Dan kalau aku tinggal?”

Seeyana menarik napas. “Kita menanggung akibatnya.”

Ravent menatapnya lama. “Aku siap.”

Seeyana tidak menjawab. Ia hanya meletakkan cangkir, mematikan kompor. Ketika ia kembali, jarak itu sudah hilang. Sentuhan pertama terjadi pelan ragu lalu lebih yakin, seolah mereka mengakui sesuatu yang lama disangkal.

Ciuman itu tidak terburu-buru. Ada jeda. Ada tarikan napas yang berat. Tangan Ravent menyentuh punggung Seeyana, berhenti—meminta izin. Seeyana mengangguk kecil, bukan sebagai janji, melainkan keputusan sesaat.

Lihat selengkapnya