Rahasia Istri Yang Disakiti

Thariqia
Chapter #19

19 - Jeda

Tiga minggu pertama berlalu tanpa ledakan. Itulah yang paling menguras.

Seeyana bangun pagi, bekerja, pulang dengan tubuh lelah dan pikiran yang terus belajar diam. Ia menepati jadwalnya sendiri bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai fondasi. Percetakan itu kini terasa akrab bunyi mesin, tumpukan kertas, dan sapaan singkat yang tulus.

“Kamu kelihatan lebih tenang,” kata Pak Hendra suatu sore.

“Karena saya berhenti menunggu,” jawab Seeyana tanpa berpikir lama.

Ia menyadari kebenaran kalimat itu saat mengatakannya.

Ravent juga menepati jeda dengan caranya sendiri. Ia mengantar berkas ke kantor klien, menolak ajakan lama yang berbau kebiasaan buruk, dan pulang ke rumah yang terlalu sunyi. Ia mencatat hari-harinya seperti orang yang belajar berjalan ulang.

Ia mengirim pesan ke Seeyana dua atau tiga hari sekali. Singkat. Informasional. Tidak menuntut.

Aku akan lembur.

Ibu masih diam.

Aku konseling hari ini.

Seeyana membalas seperlunya. Ia menghargai konsistensi tanpa membiarkannya berubah menjadi ketergantungan baru.

***

Suatu malam, Alya pulang lebih awal dan meletakkan dua gelas teh di meja. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

“Sedang belajar,” jawab Seeyana.

Alya menatapnya lama. “Belajar apa?”

“Menikmati jeda tanpa mengisinya dengan orang.”

Alya tersenyum tipis. “Itu pelajaran mahal.”

Tekanan datang dari arah yang tak ia duga. Seorang kerabat jauh menghubunginya, berbasa-basi, lalu menyelipkan kalimat yang sudah ia hafal nadanya. Tentang “seharusnya,” tentang “nama baik,” tentang “kesempatan kedua.”

Lihat selengkapnya