Via masih terdiam di dalam kamarnya, rasanya Via tak ingin keluar dari kamar. Rasa kecewanya pada Bunda membuat Via enggan untuk berjumpa dengan Bunda. Namun kewajibannya sebagai seorang pelajar mengharuskan Via keluar dari kenyamanannya. Walaupun sebenarnya Via masih ingin bersembunyi dibalik selimutnya.
“Fuhh..... Males banget keluar.” Gerutu Via sambil menenggelamkan diri kembali ke dalam selimutnya.
Via mencoba menenangkan dirinya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi pada pagi ini. Bayangan wajah Bunda terus memenuhi pikirannya.
“Harus berani, semangat Via!” Gumamnya setelah membuka selimut yang menutupi dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Via mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.
Pandangannya menuju bintang-bintang yang memadati toples pemberian Raka. Segurat senyum tersemat di bibir Via. Via mencoba mengawali hari dengan senyum dan pikiran positif. Agar apapun yang terjadi, dirinya siap untuk menghadapinya.
Via mengalihkan pandangannya pada jam di dinding kamarnya. Jam dinding itu menunjukkan pukul 06.15 WIB. Via segera bangun dari tempat tidurnya. Dengan langkah yang sangat berat, Via melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Sesaat Via melihat meja makan, hanya ada Ve yang sedang menikmati sarapan paginya.
“Dimana Bunda?” Tanya Via lirih pada dirinya sendiri.
“Via..... Udah bangun?” Tanya Ve yang menyadari kehadiran Via. Via hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ve.
“Buruan mandi terus sarapan bareng aku ya!” Pinta Ve yang lagi-lagi Via jawab dengan anggukan kepalanya.
Via bergegas melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Di dalam benaknya masih terbesit tanya tentang keberadaan Bunda. Walaupun dihati kecilnya, Via sangat bersyukur tidak bertemu Bunda pagi ini. Via masih menyimpan kecewa pada Bunda. Dalam waktu 10 menit, Via sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Via menghampiri Ve di meja makan yang sepertinya telah selesai menikmati sarapannya.
“Sarapan dulu Vi! Aku tungguin.” Kata Ve yang melihat Via sudah siap dan menghampirinya.
“Langsung berangkat aja Ve. Aku sarapan di kantin aja.” Jawab Via sambil pandangannya menyapu seluruh bagian ruangan.
“Bunda udah berangkat dari tadi jam 6. Pulangnya juga malam katanya.” Kata Ve yang sepertinya tahu apa yang sedang Via cari. Mendengar kata-kata Ve, Via hanya tersenyum dan menarik nafas dalam-dalam.
“Yuk berangkat!” Ajak Via pada Ve.
“Yakin enggak mau sarapan?”
“Nanti aja di kantin.”
“Oke.”
Ve bergegas bangkit dari duduknya dan segera mengikuti langkah Via yang sudah dulu berjalan keluar dari rumah. Via dan Ve berjalan beriringan menuju halte bus. Namun kedua anak kembar itu tenggelam dalam diam, seperti dua orang yang tak saling kenal. Via tenggelam dengan rasa kecewanya dan pikirannya yang putus asa dengan sikap Bunda. Sedangkan Ve tenggelam dengan rasa takut dengan kegagalan yang mungkin akan dia alami pada Olimpiadenya nanti. Karena timnya kali ini tak sehebat timnya yang sebelumnya. Ve sebenarnya menyadari bahwa dirinya tak sehebat yang Bunda kira. Selama ini Ve bisa terlihat hebat karena hasil kerja tim. Terkadang Ve merasa bahwa Via lebih hebat darinya. Via bisa membawa pulang piala kemenangan atas namanya sendiri bukan tim seperti dirinya. Namun Bunda tak pernah bisa menerima apapun yang Via persembahkan. Ve pun tak pernah paham dengan sikap Bunda pada Via.
“Via.....” Suara yang lantang memanggil namanya, membuat Via kembali pada hiruk pikuk dunia setelah berkelana dalam dunianya sendiri. Via mengenal suara itu dan mobil sedan yang berhenti tepat di hadapannya.
“Hai.... Rik.” Sapa Via setelah kaca mobil dibuka oleh sang pemilik.