Rahasia Olivia

Sartika Chaidir
Chapter #7

LUKA YANG TERSEMBUNYI

Album itu masih Via simpan di laci meja belajarnya. Rasa keingintahuan tentang sosok Ayahnya membuat Via harus berhadapan dengan masa lalu Bunda. Via yakin Bunda memiliki alasan yang tersendiri untuk menyimpan masa lalunya dan menyembunyikan sosok Ayahnya.

“Besok aku harus ke gudang lagi. Aku yakin ada yang bisa aku temui tentang Ayah.” Via berbicara pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan dan memberi keberanian pada dirinya. Via tahu konsekuensinya jika semua ini diketahui Bunda. Bunda pasti akan sangat marah padanya. Namun Via sudah membulatkan tekatnya untuk mencari tahu tentang Ayahnya.

“Tok... Tok... Tok...”

“Via....”

Via terkejut mendengar pintu kamarnya diketuk dan suara seseorang yang memanggil namanya di balik pintu. Tapi Via yakin itu bukan Bunda, tak semudah itu Bunda akan memaafkannya dan kembali memanggil namanya. Butuh waktu lebih dari 2 minggu Bunda akan bersikap seperti biasa lagi. Via masih ingat saat Bunda tak berbicara padanya bahkan menganggap dirinya tak ada ketika Via melakukan kesalahan yang Via kecil tak mengerti akan kesalahannya. Saat itu Via masih berusia 9 tahun. Usia dimana dirinya membutuhkan kasih sayang dan bimbingan. Namun semua itu tak Via dapatkan. Bunda yang memang tak pernah bersikap manis pada Via tiba-tiba diam membisu. Apapun yang Via katakan dan lakukan tak digapainya. Via seolah-olah tak ada baginya. Hingga Via kecil putus asa dan memilih bersikap sama dengan Bunda. Diam dan menganggap dirinya seolah-olah hidup seorang diri. Saat itu Via hanya bisa menangis pada malam hari sebelum tidur dan berusaha kuat ketika di pagi harinya. Via masih ingat betul berapa lama Bunda mendiamkannya. 1 bulan lamanya Bunda diam dan tak peduli dengan Via. Via benar-benar tak mengerti kesalahannya, hingga Ve memberitahu kesalahan yang membuat Bunda tega bersikap seperti itu.

“Aku denger waktu Bunda bilang sama Bu Aminah kalau Bunda malu punya anak kaya kamu Via.” Kata-kata Ve saat itu masih Via ingat. Walaupun Via masih belum mengerti maksud Bunda malu memiliki anak seperti dirinya. Bu Aminah wali kelas Via dan Ve sewaktu mereka kelas 4 SD. Dan saat itu Bunda di panggil ke sekolah karena Via berkelahi dengan temannya. Via berkelahi dengan murid kelas 6 yang saat itu menggoda Ve hingga Ve menangis. Tapi sepertinya Bunda tak mengetahui alasan yang sebenarnya dan mungkin Bunda tak mau tahu alasan yang sebenarnya. Bunda hanya tahu Via berkelahi dengan murid laki-laki kelas 6 yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang anak perempuan.

“Via....” Seseorang dibalik pintu kamar Via memanggilnya lagi, membuat Via kembali dari kenangan masa lalunya.

“Iya.... Sebentar.” Jawab Via sambil melangkah mendekati pintu kamarnya dan membukanya. Muncul sosok Ve di balik pintu dengan nampan di tangannya.

“Ini buat kamu. Aku tahu kamu pasti enggak mau makan malam sama Bunda.” Kata Ve sambil memberikan nampan yang dibawanya. Via tersenyum dan menerima nampan yang diberikan Ve. Sebenarnya Ve sangat menyayangi Via, hanya saja Ve tak berani menghadapi amarah Bunda. Hingga membuat Ve terpaksa bersikap dingin pada Via dan selalu bersembunyi dibalik Via.

“Makasih.” Jawab Via singkat dan segera menutup kembali pintu kamarnya setelah Ve meninggalkannya.

***

Sinar matahari pagi sedang berusaha menembus tirai jendela kamar Via yang masih tertutup. Via sebenarnya sudah terjaga, namun Via belum memiliki energi untuk memulai harinya. Via masih belum sanggup bertemu dengan Bunda. Via berharap kali ini Bunda berangkat lebih awal lagi seperti kemarin.

Namun jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 05.50 WIB memaksa Via untuk segera memulai harinya sebagai seorang pelajar. Dengan malas Via bangun dari tempat tidurnya dan bergegas keluar dari kamar menuju kamar mandi. Sesaat Via melihat meja makan dan dapur, terlihat Bunda yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Terkadang Via merasa sedih melihat Bunda yang harus bekerja untuk menghidupi ke dua putrinya dan harus tetap menjadi ibu rumah tangga yang mengurus semua hal. Namun ketidakadilan yang Bunda ciptakan untuk dirinya membuat goresan-goresan luka pada hati Via. Dan membuat Via menjadi seorang anak yang membangkang untuk menuntut keadilan.

“Maafin Via ya Bun.” Katanya lirih dan segera masuk ke dalam kamar mandi.

Dalam waktu 20 menit Via sudah selesai mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Ketika Via menuju meja makan, Via hanya menemukan Ve yang sedang menikmati sarapannya. Via sedikit terkejut melihat Bunda sudah tidak terlihat keberadaannya.

“Sarapan Vi.” Ajak Ve sambil tetap fokus pada hidangan di hadapannya.

“Bunda kemana?” Tanya Via tanpa menggapai ajakkan Ve.

“Bunda udah berangkat.” Jawab Ve singkat.

“O.... Terulang lagi.” Gumam Via yang kemudian teringat dengan kisah 9 tahun yang lalu. Dimana dirinya tak dianggap ada dan selalu dihindari.

“Apa Vi? Kamu ngomong apa?” Tanya Ve yang sepertinya tak mendengar gumam Via.

“Enggak apa-apa. Udah selesai belum?” Tanya Via.

“Udah. Kamu enggak sarapan Vi?”

“Enggak, entar aja di kantin. Yuk berangkat!” Ajak Via yang segera melangkahkan kakinya tanpa menunggu Ve.

“Keras kepala.” Gumam Ve sambil bergegas mengikuti langkah Via.

Sebenarnya Via sangat ingin menikmati nasi goreng buatan Bunda yang menurut Via sangat lezat. Namun ketidakhadiran Bunda membuat Via hilang selera makannya. Via merasa Bunda kembali tak menginginkan dirinya.

Kali ini Via dan Ve tak seberuntung biasanya yang selalu bertemu dengan Erik. Entah Erik terlambat atau mungkin sudah lebih dulu berangkat. Hingga membuat Via dan Ve harus berangkat sekolah menggunakan bus sekolah.

Lihat selengkapnya