“Ayah!!!” Teriak Via lagi namun tetap tenggelam dalam bantal lovenya.
Perlahan Via membuka bantal love dari wajahnya. Via hampir kehabisan nafas karena terlalu erat menenggelamkan wajahnya. Rasa sedih, kesal, marah, senang tercampur dan melebur di hatinya. Membuat Via tak bisa memahami perasaannya sendiri.
“Aku harus bertemu Ayah. Gimana pun caranya!” Katanya pada dirinya sendiri.
“Semua ini karena Ayah. Ayah yang membuat Bunda bersikap tak adil pada ku. Ayah yang udah membuat Bunda menyimpan luka. Ayah yang membuat Bunda tak bisa menghargai ku.” Gumamnya kesal.
Via mencoba menenangkan dirinya agar dapat berpikir jernih. Via sangat ingin menemui Ayahnya yang menurutnya merupakan orang yang bertanggung jawab atas semua yang dia alami. Via ingin Ayahnya memperbaiki semua yang sudah terjadi di hidupnya. Namun Via mendapatkan jalan buntu, karena di catatan buku yang dia temui tak ada petunjuk keberadaan Ayahnya. Via ingin menanyakan pada Bunda, namun Via sudah bisa menebak apa yang akan Bunda lakukan kepadanya.
“Ah..... Apa yang bisa aku lakuin? Gimana bisa nemuin Ayah? Daerah tempat tinggal Ayah aja aku enggak tahu!” Gumam Via yang sedang berusaha memutar otaknya untuk mencari tahu keberadaan Ayahnya.
Perlahan Via memejamkan matanya mencoba membawa semuanya ke alam mimpinya. Via sangat lelah dengan semua yang beterbangan di otaknya, membuat Via dalam waktu 10 menit sudah terlelap dan berkelana di alam mimpinya.
***
Via terkejut ketika membuka mata dan melihat jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Dia merasa hanya sesaat tenggelam pada alam mimpinya.
“Astaga..... Udah pagi aja!” Seru Via sambil bangun dari tempat tidurnya.
Kali ini Via ingin berhadapan dengan Bunda. Dia tak ingin menghindar lagi dari Bunda. Via kini tahu kenapa Bunda terlihat dingin dan angkuh. Semua itu hanya untuk menutupi luka yang telah lama tertanam dalam hatinya. Via merasa sudah bersikap tidak adil pada Bunda. Tidak semua kesalahan yang Bunda lakukan karena Bunda, namun Ayah juga turut andil di dalamnya. Via bergegas keluar kamar menuju dapur. Belum ada siapa pun yang Via temui. Bergegas Via menyiapkan sarapan pagi dengan menu andalannya. Nasi goreng sosis dengan telor mata sapi untuk Bunda, Ve dan dirinya. Dalam waktu 20 menit Via sudah selesai menyiapkan sarapan pagi. Via pun segera bersiap untuk berangkat sekolah.
“Siapa yang buat sarapan ini?” Tanya Bunda ketika berada di meja makan yang sudah terhidang nasi goreng sosis dengan telor mata sapi dan teh manis panas untuk Bunda.
“Via Bun.” Jawab Via dengan hati-hati. Via tak ingin membuat selera Bunda nya hilang begitu saja. Mendengar jawaban Via, Bunda hanya terdiam dan mencoba hidangan yang Via buat. Bunda memang tak tahu banyak tentang Via. Via menyembunyikan banyak hal dari Bunda. Bukan karena Via tak ingin Bunda tahu, tapi Via tak memiliki kesempatan untuk menunjukkannya pada Bunda. Salah satunya kemampuan masaknya, baru kali ini Via bisa menunjukkan pada Bunda. Selama ini Bunda tak pernah tahu, yang Bunda tahu kedua putrinya selalu membeli makanan untuk makan sehari-hari.
“Enakkan Bunda masakkan Via? Ve sering dibikinin sama Via.” Kata Ve sambil tetap menikmati hidangan di hadapannya. Sedangkan Via berusaha tenang dan bersiap dengan reaksi Bunda yang mungkin akan melukai hatinya. Namun Bunda tak bereaksi apapun dan tetap menikmati hidangannya sampai tak bersisa. Senyum Via mengembang ketika melihat piring Bunda yang tak meninggalkan sisa. Walaupun sikap Bunda masih menganggapnya tak ada.
“Terimakasih Bunda.” Kata Via dalam hatinya.
***
Hari ini Via memulai harinya dengan hati yang bahagia. Baginya sikap Bunda yang tak menambahkan luka di hatinya cukup membuat Via bahagia. Via dan Ve sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing ketika sebuah sedan yang tak asing bagi keduanya berhenti tepat di depan mereka.
“Erik....” Seru Via sambil menghampiri mobil sedan yang hanya berjarak 100cm dari tempatnya berdiri.
“Lu udah sembuh?” Tanya Via ketika sang pemilik mobil membuka kaca mobilnya.
“Udah.... Yuk!” Kata Erik sambil memberi instruksi pada Via untuk masuk mobilnya. Via segera mengikuti instruksi Erik untuk masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Ve yang sejak tadi hanya memperhatikan Via, bergegas mengikuti Via masuk ke dalam mobil Erik.
“Lu beneran udah sembuh Rik?” Tanya Via lagi ketika Erik sudah melajukan mobilnya. Erik yang melihat kekhawatiran Via mengembangkan senyumnya.
“Dih senyum-senyum dia!” Protes Via melihat senyum Erik.
“Udah Via!” Jawab Erik lembut masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“Gue cuma kecapekan doang. Kemarin gue latihan basket buat turnamen minggu depan sampai malem. Paginya gue kesiangan bangunnya.” Lanjut Erik menjelaskan. Via hanya mengangguk-anggukan kepala, tanda bahwa dia mengerti dengan penjelasan Erik.
Ve yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan Via dengan Erik, bisa menilai jika Erik tertarik dengan saudara kembarnya. Dan Ve juga bisa menilai jika Via juga memiliki perasaan yang sama dengan Erik.
“Kalau aku jadi kamu, aku juga pasti tertarik sama dia.” Kata Ve dalam hati sambil mencuri pandang pada Erik. Sikap Ve yang sama seperti Bunda, dingin dan angkuh membuat Ve kehilangan kesempatan untuk memiliki teman dan kehilangan kesempatan untuk di cintai seseorang. Terkadang Ve merasa iri dengan Via yang selalu bisa mengikuti kata hatinya.
“Udah sampai.” Kata Erik ketika sudah berada di depan gerbang sekolah Ve. Ve yang sedang hanyut dengan pikiran dan perasaannya terkejut mendengar kata-kata Erik. Dengan gugup Ve bergegas turun dari mobil Erik dan melangkah cepat menuju gerbang sekolahnya, tanpa ucapan terimakasih seperti biasanya.
“Saudara lu aneh banget Vi!” Kata Erik sambil kembali mengemudikan mobilnya.
“Aneh kenapa?” Tanya Via yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan Erik.
“Dari tadi dia ngeliatin gue terus.” Jawab Erik yang ternyata menyadari curi pandang Ve.
“Naksir kali ama lu!” Canda Via yang sebenarnya juga menyadari sikap Ve.
“Ngaco lu!” Jawab Erik yang merasa candaan Via berlebihan.
Kelas terdengar sangat gaduh ketika Via dan Erik masuk bersama ke dalam kelas.
“Erik.... Udah sembuh lu?” Tanya Anton yang menyadari kedatangan Erik.