“Bunda.... Maafin Via, Via hanya ingin Bunda bahagia.” Kata Via lirih. Namun Bunda tak peduli dengan kata-kata Via. Bunda tetap melangkah pergi meninggalkan Via tanpa memalingkan wajahnya pada Via.
“Bunda..... Bunda....” Via terus memanggilnya, namun Bunda terus melangkah dan semakin jauh meninggalkan Via.
“Via.... Via.....” Ve mencoba membangunkan Via yang sedang mengigau memanggil Bunda. Namun Via tak terbangun. Via masih terus memanggil Bunda dengan badan yang terlihat menggigil. Ve mencoba memeriksa kondisi Via. Perlahan di pegangnya kening Via.
“Astaga, panas sekali kamu Vi!” Seru Ve. Bergegas Ve melangkah keluar kamar menuju kamarnya, diambilnya handuk kecil dan termometer. Dikompres dan di ukur suhu badan Via.
“Bunda.... Bunda...” Via masih terus memanggil Bunda.
“Astaga, suhunya 39,8°C!” Seru Ve makin panik.
“Aku harus gimana? Aku enggak berani panggil Bunda.” Ve berbicara pada dirinya sendiri.
Ve memutuskan untuk menunggu Via sampai tersadar. Sudah di siapkan obat penurun panas, minum dan bubur untuk Via. Ve tidak punya banyak pilihan. Karena dirinya yang pengecut, membuat dia tak punya pilihan selain menunggu. Ve terdiam memandang Via yang masih belum tersadarkan.
“Via maafin aku.” Gumam Ve.
“Aku terlalu penakut. Aku selalu menjadikan kamu perisai. Maafin Aku Vi.” Lanjutnya yang tanpa sadar air matanya membasahi pipi. Ve tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Via yang sebenarnya adik dari Ve justru selalu melindungi kakaknya. Sedangkan Ve yang seorang kakak selalu berada di belakang Via. Bahkan saat Bunda hilang kendali, Ve hanya bisa terdiam. Ve terlalu takut dengan Bunda. Ve merasa sudah saatnya dia terlepas dari trauma masa kecilnya.
Ketika itu Ve mencoba mempertahankan keinginannya untuk ikut les melukis karena memang Ve sangat menyukainya. Sampai sekarang pun Ve masih sering melukis, walaupun hasil karya dan alat lukis Ve disimpan di dalam kamar Via. Kejadian 10 tahun yang lalu masih sangat melekat di ingatan Ve. Saat pertama kali Ve ingin mencoba berani mempertahankan keinginannya namun berakhir trauma untuknya.
“Jangan pernah membantah Bunda!” Begitu kata Bunda saat Ve kecil meminta untuk les melukis.
“Ve suka melukis Bunda. Boleh ya?!” Ve kecil masih mencoba memohon dengan merengek khas anak-anak.
“Enggak.” Bunda menjawab dengan tegas sambil tetap fokus dengan kegiatan menyapu lantai.
“Tapi Ve mau Bunda.” Ve masih mencoba membujuk Bunda, Ve kecil berpikir mungkin Bunda akan luluh dengan rengekannya. Seperti Bundanya teman-temannya, yang selalu menuruti permintaan anaknya jika anaknya terus merengek. Tetapi berbeda dengan Bunda, semakin Ve merengek semakin emosi Bunda tersulut.
“Diam.....! Bunda bilang enggak ya enggak!” Kata Bunda yang sudah terlihat diselimuti amarah. Via yang sedang bermain boneka di dekat Ve sudah bisa membaca amarah Bunda karena sudah 5 tahun lebih Via selalu menghadapi kemarahan Bunda. Via kecil sudah bisa menebak apa yang akan Bunda perbuat dengan Ve. Dengan cepat Via menarik lengan Ve sehingga tubuh Ve kecil berada di belakang tubuh Via, bertepatan dengan gagang sapu yang Bunda ayunkan ke arah Ve. Sehingga gagang sapu itu tepat mengenai tangan Via yang mencoba menangkis pukulan Bunda.
“Pergi kamu!” Hardik Bunda pada Via. Namun Via kecil tak bergeming, Via tetap berdiri di depan Ve. Membuat Bunda semakin tersulut emosinya. Bunda merasa anak-anaknya tidak ada yang menurut padanya. Dengan kalut Bunda memukuli Via menggunakan gagang sapu, hingga gagang sapu yang Bunda pegang patah dan seluruh tubuh Via terasa sakit. Pemandangan itu yang membuat Ve trauma dan memutuskan untuk mengikuti semua yang Bunda mau. Agar Via juga dirinya tak pernah merasakan kemarahan Bunda yang berlebihan. Menurut Ve jika salah satu dari anak Bunda menjadi anak yang penurut, mungkin Bunda tidak akan selalu diliputi kemarahan.
“Ve kamu kenapa?” Tanya Via yang baru saja terbangun dari mimpi yang panjang. Via terkejut melihat Ve yang duduk di sampingnya sambil menangis.