Rahasia Olivia

Sartika Chaidir
Chapter #14

JANJI TAK TERUCAP

Via terdiam melihat Arda yang begitu khusyuk dalam beribadah. Bahkan karisma nya semakin bertambah, membuat Via semakin terpesona.

"Gila keren banget tu cowok." Gumam Via.

"Astaghfirullah, kok Gila sih!" Via memaki dirinya sendiri dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Subhanallah, adem liat cowok kaya Arda. Nah ini baru bener." Via masih bergumam sendiri. Sedangkan Arda masih khusyuk dengan ibadah sholatnya.

"Udah selesai?" Tanya Via ketika melihat Arda sudah duduk di sampingnya.

"Udah. Kamu udah sholat?" Tanya Arda.

"Gue lagi enggak sholat." Jawab Via berbohong. Karena memang semenjak Omanya tiada, Via tak lagi rajin beribadah. Tak ada lagi yang menuntun dan mengingatkan Via untuk beribadah.

"O.... Kita mau makan dulu apa mau langsung jalan." Tanya Arda pada Via.

"Terserah lu." Jawab Via yang sedang berpura-pura fokus pada handphone pemberian Arda.

"Ok. Yuk!"

"Kemana?"

"Terserah aku." Jawab Arda dengan senyum dibibirnya dan bergegas melangkah menuju tempat dimana motornya terparkir.

"Arda....!!" Teriak Via kesal dan bergegas mengikuti langkah Arda.

Arda melajukan motornya keluar dari Masjid Perak Kotagede dan menuju pasar legi Kotagede.

"Makan dulu ya!" Ajak Arda ketika berhenti di pasar legi Kotagede. Via hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Soto ayam yang menjadi pilihan Arda dan Via untuk mengisi perutnya sebelum melanjutkan pencarian.

"Gimana? Enakkan?" Tanya Arda pada Via setelah selesai menikmati makan siangnya.

"Enak, enak banget. Gue heran, makanan disini enak-enak tapi murah." Sanjung Via yang memang sedang kagum dengan makanan di kota Jogja ini.

"Buat kamu murah, tapi belum tentu buat orang disini." Jawab Arda dan berlalu meninggalkan Via.

"Masa? Eh.... Tunggu Arda!"

"Hih tu orang main tinggal-tinggal aja." Gerutu Via sambil berlari mengejar Arda.

Arda dan Via kembali ke rumah yang alamatnya Via dapat dari buku harian Bunda. Arda mencoba bertanya pada beberapa orang disekitar rumah itu. Namun tak ada satupun orang yang mengetahui keberadaan Ayah Via. Via benar-benar putus asa dan kecewa. Kepergiannya ke kota Yogyakarta terasa sia-sia. Tak ada petunjuk lagi untuk mencari Ayahnya.

"Udah Da, enggak usah tanya-tanya lagi. Percuma." Kata Via saat Arda selesai bertanya pada orang ke 15.

"Sabar ya Vi. Pasti ada jalannya."

"Gue enggak yakin Da. Mungkin emang udah takdir gue kali enggak bisa kenal bokap gue sendiri." Kata Via putus asa.

"Jangan ngomong gitu Vi. Aku yakin kamu pasti bisa ketemu Ayahmu." Arda mencoba menumbuhkan semangat Via lagi. Namun Via sudah terlanjur putus asa, hingga kata-kata penyemangat dari Arda tak mampu membuat Via kembali bersemangat.

Via duduk terdiam, pandangannya jauh ke depan. Rasa kecewanya membuat Via kehilangan tenaga. Via terlihat lesu dan lemah. Arda tak tega melihat kondisi Via, hingga Arda berniat menghibur Via dengan membawanya berkeliling kota Yogyakarta.

"Ikut aku Vi!" Ajak Arda.

"Kemana?" Tanya Via lirih.

"Yuk! Ikut aja dulu." Ajak Arda sedikit memaksa. Via yang sudah tak memiliki tujuan hanya bisa mengikuti Arda saja.

"Kita sebenarnya mau kemana sih?" Tanya Via ketika sudah naik ke motor Arda dan Arda melajukan motornya menjauh dari daerah Kotagede. Daerah dimana Via mengharapkan dapat bertemu dengan Ayahnya.

Lihat selengkapnya