Sudah hampir 1 minggu Via meninggalkan Ve dan selama itu juga Via tak memberikan kabar pada Ve. Ve yang memang sangat bergantung dengan Via merasa sangat kehilangan. Terlebih ketika kegagalan menghampirinya. Dua hari yang lalu Ve mengikuti Olimpiade Sains bersama dua temannya. Ve yang terbiasa mendapatkan kemenangan, kini harus menerima kekalahan. Bahkan masuk 3 besar pun kelompok Ve tak mampu. Entah kelompoknya yang kurang solid atau memang lawannya lebih tangguh. Namun alasan itu tak bisa membuat Bunda menerima kekalahan Ve.
"Kamu kenapa?" Tanya Bunda yang sejak tadi wajahnya terlihat menahan amarah.
"Enggak kenapa-kenapa Bun." Jawab Ve dengan lirih.
"Maksud Bunda, kamu kenapa kalah? Biasanya kamu selalu juara pertama."
"Emm.... Kayanya lawan yang sekarang lebih hebat Bun." Jawab Ve semakin lirih dan menundukkan kepalanya.
"Itu enggak bisa menjadi alasan buat kekalahan kamu." Hardik Bunda.
"Bunda perhatikan kamu banyak berubah Ve. Kamu mulai seperti Via. Selalu melawan Bunda."
"Bukan begitu Bunda, tapi kekalahan ini bukan sepenuhnya salah Ve. Ini kerja tim Bunda."
"Diam!!! Sudah berani kamu Ve!"
"Via tolong aku." Kata Ve dalam hati dan semakin menundukkan kepalanya. Air matanya ingin sekali keluar, namun Ve berusaha menahannya. Ve tak ingin membuat Bunda semakin kesal dengannya.
"Maafin Ve, Bunda." Akhirnya Ve memutuskan untuk menyimpan penjelasannya.
"Bunda mau kamu harus semakin giat belajarnya dan jangan pernah membantah kata-kata Bunda. Jangan jadi Via kalau kamu tak ingin menyesal." Ancam Bunda pada Ve dan segera meninggalkan Ve yang masih terdiam.
"Apa maksud kata-kata Bunda tadi?" Gumam Ve.
"Kamu salah Via. Bunda bukan sayang dengan ku. Bunda hanya suka padaku karena aku tak pernah berani membela diriku." Kata Ve lirih dengan air mata yang membasahi pipinya. Jari jemari Ve saling meremas untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.
"Kamu dimana Via? Tolong jangan tinggalin aku." Ve menangis tersedu.
***
Sore ini Ve tak ingin berada di rumah, namun Ve bingung harus kemana. Hingga Ve memutuskan untuk pergi ke taman yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahnya.
Ve sedang fokus dengan beberapa anak yang bermain di taman itu. Beberapa kali senyum Ve mengembang ketika melihat anak-anak itu bermain dengan riang. Ve merasa masa kecilnya tak sebahagia anak-anak itu.
"Masa kecilku tak sebahagia kalian yang bebas berekspresi." Gumam Ve.
"Ve...." Sapa seseorang, membuat Ve tersadar dari lamunannya. Ve memalingkan pandangannya kearah seseorang yang memanggilnya.
"Erik." Kata Ve lirih.
"Lu lagi ngapain? Sendirian aja? Via mana?" Tanya Erik pada Ve sambil duduk di sampingnya.
"Banyak banget." Gumam Ve
"Apa Ve?" Tanya Erik yang tak mendengar kata-kata Ve. Sebenarnya Erik enggan menyapa Ve, namun rasa penasaran atas keberadaan Via membuat Erik memberanikan diri.