Rahasia Olivia

Sartika Chaidir
Chapter #17

ADA APA DENGAN VE

Ve mengetuk pintu kamar Via, ada beberapa hal yang ingin Ve ceritakan pada Via. Ve tak ingin menyembunyikan apapun pada sang adik. Pengalaman menyembunyikan keberadaan Ayahnya menjadi pelajaran untuk Ve. Dan Ve ingin mendengar cerita Via tentang sangat Ayah.

"Vi.... Via...." Panggil Ve dengan masih mengetuk pintu kamar Via. Namun sang pemilik kamar tak bergeming.

"Via...." Ve masih berusaha walaupun Via tetap tak memberikan jawaban.

Via masih terlelap dalam tidurnya. Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta dan perpisahannya dengan Arda, membuat Via merasakan tubuh dan hatinya lelah.

"Mungkin dia tidur. Ya udah besok aja." Gumam Ve yang mulai putus asa dan segera melangkah menuju kamarnya.

***

"Pagi Ve." Kata Via ketika melihat Ve sedang menikmati sarapan paginya.

"Hai.... Via... Sini... Sini..." Jawab Ve sangat bersemangat membuat Via menaruh curiga. Namun Via berusaha untuk menyimpan rasa curiganya. Via tak ingin merusak suasana hati Ve yang sepertinya sedang bahagia.

Via melangkah mendekati Ve dan duduk di bangku sebelah Ve. Senyum Via mengembang melihat sikap Ve yang terlihat berbeda. Sikap dinginnya bagai gunung es sepertinya sudah mencair, walaupun belum mencair dengan sempurna. Sikap angkuhnya mulai memudar berganti dengan senyum yang merekah di bibirnya.

"Ada apa Ve?" Tanya Via dengan hati-hati. Lagi-lagi Ve mengembangkan senyumnya pada Via.

"Enggak ada apa-apa. Emmm.... Sebelum aku cerita, kamu cerita dulu dong! Gimana Jogja? Kamu udah ketemu Ayah? Ayah kaya apa Vi?" Tanya Ve pada Via dengan sangat antusias yang membuat Via kembali curiga pada Ve. Walaupun Ve sangat bahagia tapi Ve tak pernah bertanya sepanjang itu. Ada apa dengan Ve? Pikir Via.

"Kok diem Vi?" Pertanyaan Ve kali ini membuat Via tersadar dari rasa curiganya.

"Eh..... Enggak apa-apa. Jogja keren, kamu harus kesana Ve. Pasti kamu suka. Makanannya juga enak-enak." Jawab Via tak kalah antusias.

"Kapan-kapan ajak aku ya Vi!" Pinta Ve.

"Siap." Jawab Via sambil menuang susu ke dalam serealnya.

"Terus gimana Ayah? Kamu udah ketemu Ayah Vi?" Pertanyaan Ve kali ini membuat Via tersedak.

"Uhuk.... Uhuk.... Uhukkk...."

"Hati-hati Vi." Kata Ve dan memberikan tisu pada Via.

" Yang itu..." Kata-kata Via terhenti dan berlanjut dengan gelengan kepala. Wajah Via pun berubah menjadi tak bersemangat.

"Mungkin belum saatnya buat kita ketemu Ayah." Lanjut Via. Ve meraih tangan Via dan menggenggamnya.

"Sabar ya Vi. Aku yakin kita pasti ketemu Ayah." Kata Ve mencoba memberikan semangat pada Via yang terlihat kecewa dan putus asa. Via tersenyum dan menganggukkan kepala kemudian melanjutkan menikmati sarapannya.

"Gimana kalau nanti sore kita ketaman?" Ajak Ve.

"Ketaman? Tumben?" Rasa penasaran Via tak bisa lagi disembunyikan. Via merasa Ve benar-benar berubah.

"Waktu kamu di Jogja, aku kesepian Vi. Udah gitu Aku kalah di Olimpiade, jadi Bunda suka marah-marah sama aku." Ve terdiam sesaat.

"Aku bosen dirumah, tapi aku bingung mau kemana. Kamu tau kan aku enggak pernah pergi-pergi tanpa kamu. Aku juga enggak punya temen selain kamu." Lanjut Ve, membuat hati Via merasa bersalah. Via mencoba meraih kedua tangan Ve yang ia letakkan di atas meja. Via genggam dengan erat tangan Ve.

"Maafin aku ya." Kata Via yang benar-benar menyesal sudah meninggalkan Ve cukup lama.

"Enggak apa-apa Vi. Dengan kamu tinggalin aku, jadi buat aku sadar. Kalau kata-kata kamu benar."

"Kata-kata apa?"

"Kalau aku enggak bisa selamanya bersembunyi di belakang kamu. Aku harus berani bertanggungjawab dengan diriku sendiri." Kata Ve dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Mendengar kata-kata Ve, Via terdiam dan menatap Ve lekat-lekat. Via merasa ada seseorang yang membuat Ve berubah. Selama ini Via selalu mencoba membuat Ve berani menghadapi apapun, namun Via selalu gagal dan Ve akan tetap bersembunyi di belakangnya. Tapi kali ini Ve benar-benar berubah, Via yakin ada seseorang yang membuat Ve bisa berubah.

Lihat selengkapnya