Rahasia Olivia

Sartika Chaidir
Chapter #19

Mak Comblang

"Kamu dimana Da? Tolong jangan bikin hatiku gelisah. Tolong jangan buat aku semakin kacau." Gumam Via lirih.

"Aku butuh kamu Da." Lanjutnya.

Via merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pandangannya menatap langit-langit kamarnya yang penuh dengan bintang-bintang buatannya. Kata-kata Ve masih terus terngiang di telinga Via.

"Apa maksud kata-kata mu Ve?" Gumam Via.

Saat ini fokus Via tetbagi antara Arda dan Ve. Hati Via yang menahan rasa cemburu dan rindu pada Arda, ingin segera dapat menghubungi Arda. Dan pikirannya yang terbelenggu dengan kata-kata Ve, ingin segera mengetahui maksud yang sebenarnya.

Via mencoba menghirup nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Dirinya merasa letih dengan semua yang menghampirinya, hingga Via teringat dengan bintang-bintang yang diberikan Raka sebelum meninggalkannya.

Perlahan Via bangun dari tempat tidur dan melangkah mendekati meja belajarnya. Perlahan di keluarkan toples yang berisi bintang-bintang dari lemari meja belajarnya. Di pandangi lekat-lekat bintang-bintang yang berjubel di dalam toples.

"Kamu dimana sekarang Ka?" Gumamnya lirih.

"Apa kamu masih ingat aku?" Tanya Via pada dirinya sendiri.

"Raka, aku letih." Katanya sambil memeluk toples yang berisi bintang-bintang terbuat dari kertas origami.

Via menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Tangannya mengambil satu bintang dari dalam toples.

"Jangan takut untuk terus melangkah." Tulisan pada bintang yang Via ambil. Senyum Via mengembang setelah membaca kata yang tertulis di bintang yang dia ambil.

"Makasih Raka." Gumamnya dengan senyum dibibirnya.

***

Pagi ini Via memutuskan untuk menyelesaikan satu persatu masalah yang mengganggu hati dan pikirannya. Via ingin memulai dari meminta penjelasan pada Ve untuk kata-katanya.

Hari ini hari terakhir libur semester, besok Via dan Ve sudah kembali pada rutinitas seorang pelajar. Dan semester berikutnya akan sangat berat untuk Ve dan Via, karena mereka akan menghadapi ujian kelulusan. Ujian yang menentukan nasib mereka selanjutnya. Dan Via tak ingin memulai dengan beban di pikirannya.

Via melihat Ve sedang duduk di teras rumah dengan fokus pada buku yang dibacanya.

"Bunda kemana Ve?" Tanya Via pada Ve ketika sudah berada di samping Ve.

"Tadi katanya mau meeting." Jawab Ve yang tetap fokus pada bukunya.

"Hari minggu masih kerja aja." Gumam Via yang terkadang merasa kasihan pada Bunda. Bunda mungkin letih dengan bebannya, namun tak ada tempat untuk berbagi.

Ve tak menanggapi gumaman Via, fokusnya masih pada buku yang sedang ia baca.

"Ve..."

"Hemm..."

"Aku boleh tanya?" Via mencoba memulainya.

"Tanya apa?" Jawab Ve masih tetap fokus dengan bukunya tanpa mengalihkan pandangannya.

Lihat selengkapnya