Rahasia Olivia

Sartika Chaidir
Chapter #20

SALAH PAHAM

Satu masalah Via sudah terselesaikan, masalah yang mengganggu pikirannya. Sedangkan masalah hatinya masih terus membelenggunya.

Arda masih sulit untuk dihubungi, terkadang handphonenya sibuk dan terkadang handphonenya tidak aktif. Via mulai putus asa dengan hubungannya.

"Ternyata hubungan jarak jauh kaya gini, bener-bener susah. Pantas Raka tak menginginkannya." Gumam Via yang sedang memandangi handphone pemberian Arda.

"Mungkin lebih baik aku kirim pesan untuknya, siapa tahu Arda membacanya." Via masih bergumam.

Jari-jarinya mulai mengetik dengan lincah, menyusun kata-kata yang Via tulis dengan tanpa basa basi.

"Assalamu'alaikum Arda. Ternyata susah ya Da hubungan seperti ini. Mungkin hatiku berusaha untuk bertahan, tapi logikaku seperti menolak dan ingin menyerah. Menurut kamu, aku harus mengikuti yang mana? Hati atau logika? Aku Rindu Da." Kata Via dalam pesannya.

Via berharap pesannya akan segera mendapatkan balasan, namun harapannya tak terwujud. Balasan pesan yang Via harapkan tak kunjung datang hingga Via terlelap dan membawanya ke alam mimpi.

***

Arda yang memang harinya dipenuhi dengan kesibukan yang luar biasa padat bukan tak ingin membalas pesan Via. Namun Arda memiliki cara lain untuk menunjukkan rasa cinta dan sayangnya pada Via.

"Sabar ya Vi. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu." Gumam Arda setelah membaca pesan Via.

***

Via terbangun dari mimpinya yang menghadirkan Arda dengan senyumannya namun mencoba menjauh dari Via dan meninggalkannya.

"Arda...!" Kata Via ketika terbangun. Pandangannya segera menatap layar handphone yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Namun rasa kecewa yang kembali hadir, pesan yang Via tunggu tak kunjung hadir.

"Kamu kemana Da? Kenapa pesan aku enggak kamu balas?" Gumam Via yang masih memandang lekat-lekat handphone pemberian Arda.

Namun Via tak ingin larut dengan masalah hatinya. Masih banyak tugas-tugas Via yang menuntut untuk diselesaikan. Salah satunya tugas sebagai seorang pelajar. Hari ini hari pertama Via masuk sekolah setelah libur semester. Seperti biasa Via segera bersiap diri untuk berangkat sekolah.

"Ve..... Bunda mana?" Tanya Via pada Ve ketika hanya menemukan Ve di meja makan.

"Udah berangkat, ada meeting pagi katanya." Jawab Ve yang tetap menikmati sarapannya.

"Tumben kamu sarapan sereal aja? Bunda enggak bikin sarapan buat kamu?" Tanya Via sambil duduk di hadapan Ve dan menyiapkan sarapannya sendiri.

"Enggak, tadi kayanya buru-buru. Atau...." Ve menghentikan kata-katanya. Ve tidak terlalu yakin dengan dugaannya, karena tadi Bunda juga tidak terlihat sedang marah dengannya.

"Atau apa Ve?" Tanya Via yang tetap fokus menikmati sarapannya, sereal dengan susu.

"Enggak apa-apa." Jawab Ve singkat dan Via hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Ve.

"Dasar aneh!" Batin Via.

"Tin...tin...tin...." Suara kelakson mobil yang sepertinya berada di depan rumah Ve dan Via.

"Mobil siapa tuh?! Berisik banget!" Gerutu Via. Sedangkan Ve hanya senyum-senyum dan bergegas menyelesaikan sarapannya.

"Kenapa kamu senyum-senyum Ve?" Tanya Via yang mulai curiga dengan sikap Ve.

"Buruan selesaiin sarapannya!" Perintah Ve tanpa menjawab pertanyaan Via.

"Aneh banget sih kamu Ve!" Kata Via kesal dan segera menyelesaikan sarapannya.

"Yukk!!" Ajak Ve yang melihat Via telah menyelesaikan sarapannya.

"Sabar!" Jawab Via sambil mengikuti langkah Ve yang sudah lebih dulu beranjak dari duduknya dan melangkah keluar rumah.

"Ve.... Kok?" Hanya kata-kata itu yang bisa Via ucapkan ketika melihat mobil Erik berada di depan pagar rumahnya. Ve yang melihat Via sangat terkejut hanya mengembangkan senyumnya dan melingkarkan tangannya pada lengan Via.

"Udah yuk! Entar telat!" Kata Ve sambil melanjutkan langkahnya beriringan dengan Via yang seperti orang tak punya tenaga untuk melangkah.

Sedangkan Erik yang sejak tadi melihat tingkah Via dan Ve yang aneh hanya bisa terdiam di kursi kemudi. Ketika Erik melihat Via dan Ve sudah semakin dekat, menurunkan kaca jendela mobilnya.

Saat Via melihat Erik membuka kaca jendela mobilnya, dengan cepat Via melepaskan tangan Ve dan bergegas menghampiri Erik.

Lihat selengkapnya