"Kamu dimana Da?" Gumam Via di tengah-tengah fokusnya pada pelajaran.
Walaupun Via dan Erik telah membuat kehebohan di sekolah. Namun mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Via masih terus terbelenggu dengan Arda dan Erik mulai mempertanyakan hatinya. Erik masih belum percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Via.
"Apa kemarin Via nolak gue karena Ve?" Gumam Erik.
"Apaan Rik?" Tanya Anton yang hanya mendengar samar-samar gumaman Erik.
"Enggak, enggak apa-apa." Jawab Erik gugup.
"Lu kenapa jadi kaya orang bingung gitu sih?!" Tanya Anton yang memang mulai curiga dengan tingkah Erik.
"Harusnya nih, kalau habis jadian happy. Curi-curi pandang gitu. Ini malah bengong dua-duanya." Lanjut Anton yang juga belum tahu duduk permasalahannya kenapa Erik dan Via sama-sama bengong.
"Brisik lu!" Jawab Erik kesal dengan sok tau nya Anton.
"Rik.... Entar mau traktir gue dimana?"
"Traktir apaan?"
"Jadian.... Jadian...."
"Pale lu Jadian! Berisik lu! Dengerin tu, entar lu enggak bisa terus nyontek gue lagi!" Kata Erik kesal pada Anton.
"Kan itu keahlian gue." Seru Anton dengan bangga, membuat Erik menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali fokus pada pelajaran.
Erik memutuskan untuk menanyakan langsung pada Ve sepulang sekolah nanti. Walaupun Erik sendiri masih memerlukan waktu untuk meyakinkan hatinya sendiri.
***
Sepulang sekolah Erik bergegas menuju sekolah Ve. Erik ingin memastikan hati Ve dan hatinya. Sesampainya di sekolah Ve, Erik kesulitan menemukan Ve. Banyaknya murid-murid yang bersamaan keluar dari gerbang dan Ve yang tak memiliki handphone menjadi kendala Erik untuk bisa segera berjumpa dengan Ve.
"Maaf Pak, saya mau tanya. Apa Ve udah pulang?" Tanya Erik pada satpam sekolah Ve. Menurut Erik, ini satu-satunya cara cepat menemukan Ve.
"Ve?" Tanya pak satpam yang sepertinya kurang paham.
"Olive pak?" Erik mencoba memperjelas. Namun sebelum pak satpam menjawab pertanyaan Erik, ada seseorang yang memanggilnya.
"Erik....!" Panggil Ve yang sedikit bingung melihat kehadiran Erik di sekolahnya.
"Lu ngapain disini?" Tanya Ve ketika berada di hadapan Erik.
"Mau ketemu kamu." Jawab Erik lembut.
"Kamu?" Tanya Ve heran.
"Lu, maksudnya." Jawab Erik gugup.
"O.... Emang ada apa?" Tanya Via yang belum tahu maksud kedatangan Erik mencarinya.
"Gue mau ngajak lu jalan. Ada yang mau gue omongin. Lu ada waktu?" Tanya Erik pada Via.
"Sekarang?"
"Iya, kalau lu bisa."
"Bisa."
"Yuk!" Ajak Erik sambil meraih tangan Ve dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang sekolah Ve.
Ve mengikuti langkah Erik. Senyumnya mengembang dengan sempurna dibibirnya, hatinya sangat bahagia namun pikirannya penuh dengan tanya yang sulit Ve temukan jawabannya. Ve bingung dengan sikap Erik yang berubah, baru tadi pagi Erik masih terlihat biasa saja pada Ve. Namun sekarang Erik terlihat seperti perhatian dan lembut pada Ve.
***
Resto yang memiliki suasana seperti pantai di Bali jadi pilihan Erik untuk menyatakan perasaannya pada Ve. Menurut Erik resto ini memiliki kesan romantis.
"Duduk Ve!" Pinta Erik ketika sudah berada di meja yang Erik pesan. Ve hanya tersenyum dan segera duduk di kursi yang terletak berhadapan dengan Erik.
"Kita pesen dulu ya." Kata Erik sambil membolak-balikan buku menu yang diberikan oleh pramusaji resto.
"Oke." Jawab Ve dan segera membolak-balikan buku menu untuk menentukan makanan dan minuman yang ingin ia pilih.
"Ve, maaf ya." Kata Erik setelah selesai memesan makanan dan minuman.
"Untuk?" Tanya Ve gugup. Hatinya berdegup kencang ketika tatapannya beradu dengan tatapan Erik.
"Untuk pertanyaan-pertanyaan yang mau gue tanyain ke lu!" Jawab Erik lembut.
"Pertanyaan apa?" Tanya Ve yang mulai bingung dengan arah pembicaraan Erik.
"Ok, sebelum gue tanya ke lu. Gue mau lu janji sama gue, kalau apapun yang nanti gue tanya ke lu, lu jawab jujur." Kata Erik pada Ve. Ve yang masih bingung dan gugup hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan Erik. Melihat anggukkan kepala Ve, Erik merasa lega dan yakin. Erik mencoba menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan untuk mengumpulkan keberanian. Sebenarnya hati Erik juga berdegup dengan kencang. Walaupun Erik cowok populer di sekolahnya karena menjadi kapten tim basket, namun Erik belum memiliki pengalaman tentang hal cinta. Menyatakan perasaannya pada Via adalah pengalaman pertamanya.