Sudah satu minggu Via masih belum dapat menghubungi Arda. Bahkan kiriman pesan darinya pun tak mendapatkan balasan dari Arda.
"Sesibuk itukah kamu Arda?!" Tanya Via pada dirinya sendiri sambil memandangi handphone pemberian Arda.
Perlahan Via dekap handphone itu dan memejamkan matanya. Via mencoba meredam rasa rindunya pada Arda. Hingga getaran handphonenya mengejutkan Via dan menyadarkan Via dari lamunannya. Cepat-cepat Via melihat handphonenya, terlihat di layar handphone sebuah pesan dari Arda. Via sangat terkejut sekaligus sangat bahagia.
"Akhirnya." Kata Via dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Cepat-cepat Via membuka pesan dari Arda yang berupa video.
"Hallo Via, maaf kalau aku agak sulit di hubungi. Ada banyak yang harus aku kerjain disini." Kata Arda dalam Videonya.
"Bukan agak, tapi emang susah dihubungi." Gerutu Via saat mendengar kata-kata Arda pada video yang dikirim.
"Aku punya lagu buat kamu. Dengerin ya!" Lanjut Arda dalam Video nya. Dan seketika Arda memulai petikan gitarnya. Lantunan lagu kangen yang dipopulerkan oleh dewa 19 mengalun dengan merdu dari bibir Arda.
"Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang. Melepas semua kerinduan yang terpendam." Via mengikuti lantunan lagu bersama Arda.
"Ok. Semoga ini bisa mengobati rindu kita Via. Aku punya caraku untuk mencintai mu. Assalamu'alaikum bidadari surgaku." Kata Arda dalam akhir videonya.
"Ya kamu memang punya cara yang berbeda untuk mencintaiku, cara yang unik tapi bisa membuatku sangat bahagia." Gumam Via.
Rasa rindu Via sedikit terobati, hatinya kembali percaya untuk melanjutkan hubungannya dengan Arda.
"Aku akan bertahan untuk mu Arda." Gumam Via dengan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya.
***
Via mencoba memfokuskan dirinya kembali pada pelajaran. Via harus terus menjaga fokusnya, bukan hanya untuk kelulusannya namun Via harus fokus untuk mendapatkan beasiswa universitas nya. Via tak ingin membebani Bunda untuk bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.
Via sudah mendaftarkan dirinya ke dua universitas yang memiliki program beasiswa. Universitas pertama, Via mendaftarkan dirinya di Universitas Indonesia dan universitas kedua, Via mendaftarkan dirinya di KEIO UNIVERSITY Tokyo.
"Aku harus bisa mendapatkan beasiswa ini." Kata Via sambil memandangi kertas-kertas yang ada di tangannya.
"Tok... Tok... Tok.... Via." Via terkejut mendengar ketukan di pintu kamarnya dan seseorang yang memanggil namanya.
"Iya, masuk Ve." Jawab Via sambil bergegas memasukkan kertas-kertas yang sedang ia pegang ke dalam laci meja belajarnya. Via memang menyembunyikan tentang beasiswanya pada Ve dan Bunda. Via akan memberi tahu Ve dan Bunda jika ia sudah mendapatkan beasiswanya.
"Lagi ngapain Vi?" Tanya Ve ketika masuk kedalam kamar Via dan mendapati Via sedang duduk di kursi meja belajarnya.
"Lagi baca-baca aja." Jawab Via asal.
"Kenapa Ve?" Tanya Via.
"Mmm.... Aku mau minta tolong sama kamu Vi." Jawab Ve dengan lirih sambil melangkah mendekati Via.
"Minta tolong apa?" Tanya Via yang mulai curiga dengan sikap Ve.
"Erik mau ngajak jalan aku Vi. Tapi Bunda...." Kata-kata Ve tertahan, namun Via sudah mengerti maksud dari kata-kata Ve.
Selama ini Ve berhubungan dengan Erik tanpa sepengetahuan Bunda. Via yang selalu menutupinya. Walaupun Erik tidak pernah setuju dengan ide Ve untuk menyembunyikan hubungan mereka pada Bunda. Erik tak mau dianggap laki-laki pengecut yang menjalin hubungan dengan seorang wanita tanpa sepengetahuan orang tuanya. Erik ingin menjemput Via dan berpamitan pada Bunda, seperti teman-temannya. Namun Ve selalu melarangnya, Ve tak ingin Erik mengetahui Bunda yang sebenarnya. Ve tak ingin Erik menerima amarah Bunda.
"Iya, nanti aku yang minta izin ke Bunda." Jawab Via
"Tapi pulangnya jangan malem-malem. Bosen tahu aku nungguinnya." Gerutu Via.
"Ok.... Makasih Via." Kata Ve sambil menghambur dan memeluk Via.
"Iya.... Iya...." Jawab Via sambil membalas pelukan Ve.
"Ya udah, kalau gitu aku siap-siap dulu ya! Kamu juga Vi!" Kata Ve penuh dengan semangat.
"Ok." Jawab Via singkat.
Sebenarnya Via sedang ingin berada di rumah saja. Namun Via tak bisa menolak keinginan Ve yang sedang bucin pada Erik. Via selalu mengingatkan Ve untuk tetap fokus dengan kelulusan dan jenjang pendidikan selanjutnya. Karena jurusan yang ingin Ve ambil lebih berat dari Via.
***
30 menit berlalu, namun Via belum beranjak dari duduknya.
"Tok.... Tok... Tok.... Vi!" Terdengar ketukan di pintu kamar Via, membuat Via terkejut.
"Iya.... Iya... Sebentar Ve! Aku lagi ganti baju." Jawab Via sambil bergegas mengganti pakaiannya.
"Ok. Cepetan ya! Erik udah nunggu di taman!"
"Iya, ini udah selesai." Jawab Via yang sudah berada di depan Ve.
"Kok kamu pakai baju kaya gini Vi?" Tanya Ve yang terkejut melihat pakaian yang dikenakan Via. Celana jeans dan kaos berwarna abu-abu yang menjadi pilihan Via.
"Kan yang mau kencan kamu, bukan aku." Jawab Via sedikit kesal.