Rahasia Olivia

Sartika Chaidir
Chapter #23

KEHADIRANNYA

Via sangat bahagia dengan ke datangan Arda dan Anggi yang tak pernah ia bayangkan. Memang Arda selalu ingin membuat Via bahagia. Namun Arda belum sepenuhnya tahu tentang Via.

"Hai Bro!" Sapa Erik pada Arda yang sedang duduk terdiam diserambi belakang rumah Erik. Selama berada di Jakarta, Arda dan Anggi tinggal di rumah Erik. Sebenarnya Arda ingin mencari penginapan di dekat rumah Via. Namun Erik yang dirumah hanya dengan dua orang asisten rumah tangga dan satu orang tukang kebun, meminta Arda untuk tinggal di rumahnya.

"Hai..." Jawab Arda gugup karena terkejut dengan kehadiran Erik.

"Bengong aja! Entar kesambet lu!" Kata Erik sambil duduk di bangku sebelah Arda.

"Hehehe..... Lu di rumah segede ini sendiri?" Tanya Arda pada Erik yang memang sedang kagum dengan rumah Erik.

"Yaaa.... Gitu." Jawab Erik sambil mengangkat kedua bahunya.

"Maklum nasib anak tunggal yang kedua orang tuanya sibuk sama kerjaannya." Lanjut Erik.

"Kesepian lu?!" Kata Arda yang sedikit miris melihat kehidupan Erik. Erik yang sangat beruntung dengan kehidupannya namun tak mendapatkan kehangatan keluarga.

"Yaaa.... Gitu." Jawab Erik dengan lemah dan menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan dengan kasar.

"Da..." Erik mencoba memecahkan keheningan yang tercipta.

"Hem..." Jawab Arda tanpa memalingkan pandangannya.

"Gue harap lu jangan pernah kecewain Via. Via memilih lu bukan gue, walaupun gue lebih dulu kenal dia dan lebih dulu ungkapin perasaan gue ke dia. Tapi hati Via memilih lu."

Arda terkejut mendengar kata-kata Erik. Arda tak pernah menyangka jika Erik memiliki hati dengan Via.

"Via memang tangguh dan tak pernah menunjukkan kerapuhannya, bahkan Via selalu menjadi malaikat pelindung untuk Ve. Tapi gue yakin, di hati terdalamnya dia menyimpan luka dan kecewanya." Lanjut Erik.

"Maksud lu?" Tanya Arda yang tak mengerti dengan arah pembicaraan Erik.

Erik memalingkan pandangannya dan memandang lekat-lekat pada Arda. Melihat sikap Erik, Arda hanya terdiam dan mencoba fokus pada kata-kata Erik.

"Via banyak terluka dengan sikap Bundanya."

"Bundanya?" Tanya Arda yang semakin bingung.

"Ya, Via selalu menjadi pelampiasan amarah Bundanya dan selalu menjadi perisai untuk kakaknya." Erik menjeda penjelasannya. Dan Arda hanya bisa diam terpaku.

"Banyak rahasia yang tersembunyi dari mu Vi!" Kata Arda dalam hatinya.

"Ve terlalu penakut dan Via yang selalu menjaganya. Semua kesalahan Ve selalu Via yang menanggungnya." Lanjut Erik.

"Gue juga baru tahu semua ini dari Ve. Ve merasa bersalah pada Via, tapi Ve terlalu takut menghadapi Bundanya. Dan gue selalu berusaha memberikan keberanian buat Ve, supaya dia berani berdiri sendiri tanpa pelindung dari Via. Gue enggak mau Via terus terluka." Kata Erik yang terlihat begitu perhatian pada Via.

Arda masih terdiam, rasa cemburu mulai membakar hatinya. Namun Arda tak ingin bertindak bodoh lagi. Arda mencoba mengendalikan dirinya dengan menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Pandangannya lurus ke depan.

"Lu masih sayang sama Via?" Tanya Arda yang membuat Erik salah tingkah dan tak bisa berkata-kata.

"Enggak perlu lu jawab! Gue udah tau jawabannya." Kata Arda dengan suara bergetar, mencoba menahan rasa cemburunya.

"Gue enggak akan pernah kecewain Via. Itu janji gue pada diri gue sendiri." Kata Arda yang mulai bisa mengendalikan dirinya.

"Tenang aja Rik! Gue akan selalu jaga Via dan buat dia bahagia. Mungkin dengan gue bisa nemuin Ayahnya jadi awal kebahagiaan yang gue persembahan buat dia." Lanjut Arda.

"Ayah?" Tanya Erik yang sedikit bingung. Karena setahu Erik, Ayah Via sudah tiada.

"Ya...., gue ketemu Via di Jogja saat dia mencari Ayahnya." Jelas Arda pada Erik.

"Bukannya Ayahnya Via udah meninggal?" Tanya Erik yang semakin bingung dengan penjelasan Arda.

"Meninggal?" Tanya Arda yang bingung dengan pertanyaan Erik.

Mendengar pertanyaan Arda, Erik terdiam dan menghirup nafas dalam-dalam. Mencoba memberikan oksigen kedalam paru-parunya yang terasa sesak.

Lihat selengkapnya