Rahasia Olivia

Sartika Chaidir
Chapter #26

KENYATAAN YANG PAHIT

"Assalammualaikum bidadari surga. Apa kabar? Disana aman?" Kata Arda pada pesan singkatnya.

Sepulangnya dari Jakarta, Arda merasa tak tenang dan selalu memastikan keadaan Via. Arda ingin melindungi Via setiap saat, namun keadaan belum mengizinkan dia untuk selalu berada di dekat Via. Dan tanpa sepengetahuan Via, Arda berjanji ingin segera berada didekat Via untuk menjaganya.

"Waalaikumsalam, Aman." Jawab Via singkat sambil mengembangkan senyumnya, walaupun Arda tak dapat melihat senyumnya. Hatinya sangat bahagia dengan sikap Arda yang semakin perhatian kepadanya.

"Yakin?" Tanya Arda yang mencoba memastikan, walaupun sebenarnya pertanyaan itu untuk meyakinkan hatinya.

"Yakin, kamu masih percaya sama aku kan?" Tanya Via pada Arda.

"Percaya. Kamu kan peri kecil yang tangguh." Jawab Arda. Membaca jawaban Arda, Via kembali mengembangkan senyumnya.

"Jadi peri kecil atau bidadari surga nih?" Tanya Via, menggoda Arda.

"Dua-duanya." Jawab Arda yang membuat Arda dan Via tertawa bersama di tempat yang berbeda.

"Jadi kapan mau kesini lagi?"

"Bulan depan, setelah pengumumam kelulusan." Via menjawab dengan pasti. Karena Via masih ingin mencoba mencari Ayahnya sebelum benar-benar meninggalkan semuanya. Via sudah memutuskan untuk meninggalkan masa lalunya dan lukanya. Memulai kehidupan yang baru dan mencari kebahagian yang belum sepenuhnya ia temukan.

"Ok, aku tunggu ya peri kecilku. Assalammualaikum." Kata-kata penutup Arda.

"Waalaikumsalam." Jawab Via lirih yang tak mungkin Arda dengar.

***

Ujian kelulusan sudah Via lalui dengan baik dan tes untuk beasiswanya pun sudah Via lalui dengan baik juga. Dan hari ini penentuan untuk hidup Via, karena hari ini pengumuman hasilnya.

"Via.....!!!" Teriak Melli ketika melihat Via yang baru saja datang bersama Erik.

"Kenapa lu? Habis liat jurik ya?!" Tanya Via ketika sudah berada di hadapan Melli. Dan Melli hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil senyum-senyum.

"Kesambet lu?" Tanya Erik yang mulai ngeri liat tingkah Melli. Dan pertanyaan Erik kali ini juga dijawab Melli dengan gelengan kepala sambil senyum-senyum.

"Sakit lu?" Tanya Erik sambil memegang dahi Melli.

"Enak aja!" Seru Melli sambil menepis tangan Erik.

"Habis lu aneh! Ngeri gue ngeliatnya." Kata Erik yang di setujui oleh Via dengan anggukkan kepala.

"Pengumuman Vi!" Kembali Melli heboh sendiri tanpa memperdulikan kata-kata Erik.

"Udah diumumin?" Tanya Via antusias dan dijawab dengang anggukkan oleh Melli. Melihat anggukkan kepala Melli, Via dan Erik bergegas melangkah menuju papan pengumuman. Dengan teleti Via membaca deretan nama-nama siswa yang memenuhi papan. Begitu terkejut dan bahagianya Via melihat namanya yang berada di deretan teratas.

"Gue lulus!" Teriak Via.

"Selamat ya Vi! Lu salah satu lulusan terbaik. Gue bangga punya temen kaya lu!" Kata Erik sambil menepuk-nepuk bahu Via. Mendengar kata bangga yang Erik ucapkan membuat raut wajah Via berubah.

"Bangga." Kata Via dalam hati. Via tahu kata bangga tak akan pernah terucap oleh Bunda. Apapun prestasi yang Via raih, tak akan membuat Bunda bangga.

"Kenapa Vi?" Tanya Erik yang menyadari perubahan raut wajah Via.

"Enggak apa-apa. Lu luluskan?" Tanya Via mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Lulus, tapi enggak sebagus lu." Jawab Erik dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

"Lu mau lanjut kemana Vi?" Tanya Erik yang menyadarkan Via tentang pengumuman tes beasiswanya.

"Astaga!" Seru Via sambil berlari meninggalkan Erik yang terlihat kebingungan dengan tingkah Via.

"Mau kemana Vi?" Tanya Erik dengan nada suara tinggi karena Via sudah menjauh. Dan Via hanya menjawab dengan lambaian tangannya, kemudian melanjutkan langkahnya.

"Dasar Aneh!" Gumam Erik.

***

"Ve....!" Seru Via sambil mengetuk pintu kamar Ve. Tanpa menunggu lama, pintu kamar Ve terbuka.

"Kenapa Vi?" Tanya Ve ketika melihat sosok Via dibalik pintu kamarnya.

"Gue boleh pinjem laptop?" Tanya Via.

Dua minggu yang lalu Bunda membelikan laptop untuk Ve, katanya untuk persiapan Ve masuk ke Universitas. Namun tidak untuk Via, bahkan untuk sekedar bertanya kemana Via akan melanjutkan studynya pun tidak terucap oleh Bunda. Semenjak kehadiran Arda yang membuat amarah Bunda tak terkendali, Bunda bersikap dingin pada Via. Bahkan Bunda seolah menganggap Via tak ada. Namun Via mencoba untuk menerima dan tak lagi berusaha mengusik Bunda. Kali ini Via memutuskan untuk fokus dengan masa depannya.

"Boleh, buat apa?" Tanya Ve yang menaruh curiga pada Via.

"Ada perlu. Nanti aku ceritain." Jawab Via yang masih menyembunyikan tentang beasiswanya.

"Sebentar, aku ambilin." Kata Ve yang bergegas melangkah menuju meja belajarnya untuk mengambil laptopnya.

"Ni, pakai aja." Kata Ve sambil memberikan laptopnya pada Via. Walaupun Ve menaruh curiga pada Via, namun Ve tak melanjutkan pertanyaannya. Ve yakin pada saatnya nanti, Via pasti menceritakan padanya.

"Makasih." Kata Via sambil berlalu meninggalkan Ve yang masih terdiam didepan pintu kamarnya.

"Dasar Aneh!" Gumam Ve.

***

Bergegas Via membuka emailnya menggunakan leptop yang Ve pinjamkan ketika sudah berada di kamarnya dan duduk di kursi meja belajarnya.

Lihat selengkapnya