"Arda adik kamu." Jawab Pak Rachmat dengan suara bergetar. Pak Rachmat masih ingat begitu bahagianya Arda memperkenalkan Via sebagai pacarnya.
"Adik." Gumam Via lirih. Hatinya hancur dan tubuhnya terasa lemas. Harapan Via benar-benar pupus, ternyata hanya difilm-film saja yang endingnya bisa membuat kenyataan yang bahagia. Yang awalnya sedih karena kekasihnya ternyata adiknya dan pada endingnya bahagia karena ternyata sang adik tidak ada hubungan darah, hingga cintanya bisa tetap terjalin. Tapi itu tidak berlaku untuk Via.
"Tapi Yah, bukannya Arda sekarang kelas 2 SMU. Berarti umurku dan umur Arda hanya terpaut 1 tahun. Apa mungkin Arda adikku?" Via masih belum bisa menerima kenyataan. Via masih ingin mencari celah untuk hatinya. Mendengar pertanyaan Via, Ayah kembali bersedih.
"Sebenarnya Arda masih kelas 1 SMU nak, seperti Anggi. Arda dan Anggi anak kembar seperti kamu dengan kakakmu Olive. Tapi Arda sangat cerdas, hingga dia bisa lompat kelas. Maafin Ayah, kalau aja Ayah bisa menemukanmu. Mungkin kamu dan Arda..." Kata-kata Pak Rachmat tertahan, lidahnya kelu. Lagi-lagi hati Via tergores luka, kenyataan yang baru saja ia dengar membuat harapannya benar-benar pupus.
"Iya benar, Arda dan Anggi kembar. Ah.... bodoh, kamu terlalu bodoh menanyakan itu Via." Maki Via pada dirinya sendiri di dalam hatinya. Kini Via benar-benar kecewa, tangisnya semakin terisak. Di tutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pak Rachmat mencoba membawa Via dalam dekapannya. Sebenarnya Pak Rachmat tak tega menggoreskan luka di hati putrinya yang baru saja ia temukan. Namun kenyataan ini harus ia katakan, agar hubungan cinta terlarang itu berakhir.
"Maafin Ayah Vi." Kata Pak Rachmat yang benar-benar menyesal harus melukai hati putrinya. Mendengar permintaan maaf Ayahnya, Via segera melepaskan diri dari dekapan Ayahnya.
"Ini bukan salah Ayah." Kata Via masih dalam isak tangisnya.
"Ini udah takdir Via Yah, ini semua skenario Sang Pencipta." Lanjut Via yang mulai bisa mengendalikan hatinya. Mendengar kata-kata dan melihat ketegaran putrinya, membuat Pak Rachmat semakin bersalah.
"Mungkin ini cara Alloh mempertemikan aku dengan Ayah. Via ihklas Yah." Kata Via sambil mencoba tersenyum untuk Ayahnya.
Via memang berusaha mengihklaskan hatinya yang telah terukir nama Arda. Via merasa pertemuannya dengan Ayahnya memang pantas di tukar dengan rasa cintanya pada Arda. Via yakin Sang Penciptanya mempunyai skenario lain untuk cintanya. Bukankah Alloh SWT selalu mengganti sesuatu yang Ia hilangkan dengan yang lebih baik lagi, pikir Via.
Sebelum Via benar-benar pergi dan menghilang. Via mencoba memastikan, apa yang akan Ayahnya lakukan setelah pertemuaan ini.
"Apa Ayah akan menemui Bunda?" Tanya Via dengan hati-hati. Mendengar pertanyaan Via, Pak Rachmat terdiam. Tatapannya lurus kedepan, namun seperti tak ada titik pasti yang ia pandang. Perlahan Pak Rachmat memalingkan pandangannya pada Via dan menatap Via lekat-lekat. Dengan mantap Pak Rachmat menganggukan kepalanya dan mengembangkan senyumnya. Melihat anggukkan Ayahnya, Via sangat bahagia. Via merasa dengan penjelasan Ayahnya, mungkin bisa mengembalikan senyum Bunda.
"Ayah, Via pamit ya!" Kata Via pada Ayahnya. Via merasa semua telah jelas baginya. Dan Via tak ingin kehadirannya melukai Arda, Anggi dan istri Ayahnya. Cukup dirinya saja yang terluka.
"Kenapa buru-buru nak?" Tanya Pak Rachmat yang masih ingin bersama putrinya.
"Via harus pulang Yah. Kereta Via setengah jam lagi berangkat." Via tak sanggup memberikan alasan sebenarnya kepada Ayahnya. Via takut jika Ayahnya tahu alasannya ingin segera pergi karena tak ingin bertemu Arda, karena tak ingin menggores luka di hati Arda, akan membuat Ayahnya kembali menyalahkan dirinya sendiri.
"Kamu enggak mau ketemu Arda dulu?" Tanya Pak Rachmat. Pertanyaan Ayahnya kali ini membuat Via semakin terluka. Namun Via berusaha menutupi lukanya. Via hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sesaat Via teringat dengan handphone pemberian Arda. Perlahan Via mengeluarkan handphonenya dari saku celananya dan menyerahkan kepada Ayahnya.
"Titip buat Arda ya Yah." Kata Via lirih.
"Ini handphone siapa?" Tanya Pak Rachmat yang tak paham dengan maksud Via.
"Tolong berikan pada Arda ya Yah. Arda pasti paham." Kata Via yang kembali tak mampu menahan air matanya.