"Via, Ganbatte!!" Via mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.
Dengan mantap Via melangkahkan kakinya meninggalkan stasiun Gambir. Tujuan Via kali ini ke rumah Melli. Via berharap Melli bisa membantunya untuk menata hatinya dan fokus dengan keberangkatannya ke Negeri Sakura. Rasanya Via ingin segera berada disana. Via ingin meninggalkan semuanya, cintanya, lukanya dan masa lalunya.
***
Kereta yang akan membawa Arda dan Ayahnya ke kota asal Via akan segera berangkat. Arda dan Ayahnya yang sudah duduk di bangku kereta, hanya diam dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Arda yang tak sabar ingin bertemu Via dan mendengarkan penjelasannya terus berusaha mengendalikan hatinya. Pandangannya menyebar pada pemandangan di luar jendela, hatinya yang kecewa dan takut membuat Arda semakin gelisah.
Sedangkan Pak Rachmat yang duduk di samping Arda juga tenggelam dalam kegelisahan. Pak Rachmat sebenarnya belum siap berhadapan dengan masa lalunya.
"Santi, apa kamu masih mau berjumpa denganku?" Gumam Pak Rachmat lirih namun masih bisa terdengar oleh Arda.
"Kenapa Yah?!" Tanya Arda tiba-tiba, membuat Pak Rachmat terkejut.
"Enggak apa-apa. Kamu udah siap Da ketemu sama Via?" Tanya Pak Rachmat mencoba mengalihkan pembicaraan. Mendengar pertanyaan Ayahnya, Arda kembali terdiam dan menghirup nafas dalam-dalam serta menghembuskan perlahan. Dengan lemah Arda menggelengkan kepalanya. Melihat keadaan Arda, Pak Rachmat kembali merasa bersalah. Pak Rachmat merasa bertanggung jawab dengan keadaan yang menjadi kacau.
"Aku harus menyelesaikannya. Semua ini terjadi karena aku." Kata Pak Rachmat dengan dirinya sendiri di dalam hati. Pak Rachmat memantapkan hatinya untuk menghadapi masa lalunya.
"Yah, apa mantan istri Ayah sekejam itu?" Tanya Arda lirih. Arda tak ingin membuat Ayahnya tersinggung.
"Maksud kamu?" Pak Rachmat memang tak paham dengan pertanyaan Arda. Arda terdiam dan menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan. Arda mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk menceritakan apa yang pernah ia lihat tentang Bundanya Via. Seorang wanita yang pernah hadir dikehidupan Ayahnya.
"Via pernah masuk rumah sakit karena Bundanya." Kata Arda lirih, ingatannya kembali pada kejadian saat itu. Ketika Arda begitu takut melihat Via terluka dan mengeluarkan darah begitu banyak.
"Masuk rumah sakit?" Tanya Pak Rahmat yang semakin tak mengerti dengan maksud Arda. Arda mencoba menceritakan kejadian saat itu dengan sangat hati-hati dan sedatail mungkin. Tak ada satupun kejadian yang terlewatkan, karena Arda tak pernah lupa dengan kejadian itu. Karena kejadian itu yang membuat Arda ingin sekali dekat Via agar biasa selalu menjaganya.
Pak Rachmat terdiam setelah mendengar cerita Arda. Tampak jelas terlukis di wajahnya sebuah kekecewaan dan penyesalan.
"Ada apa denganmu Santi?" Tanyanya dalam hati. Perlahan Pak Rachmat menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan. Pak Rachmat mencoba mengendalikan hatinya yang diselimuti kemarahan, namun Pak Rachmat tak ingin bertindak sebelum mendengar penjelasan dari mantan istrinya. Pak Rachmat yakin mantan istrinya pasti memiliki alasan yang kuat atas sikapnya pada putri-putrinya.
"Ayah harus janji sama Arda!" Kata Arda pada Ayahnya, membuat Ayahnya kembali fokus kepadanya.
"Janji apa Da?" Tanya Pak Rachmat lirih.
"Ayah harus bawa Via ke Jogja! Ayah harus bawa Via tinggal sama kita!" Kata Arda penuh penekanan.
"Kamu yakin bisa tinggal bareng sama Via?" Tanya Pak Rachmat dengan hati-hati. Mendengar pertanyaan Ayahnya, Arda terdiam dan perlahan menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Arda tak yakin bisa begitu saja menghapus rasa sayang dan cintanya pada Via, namun Arda ingin tetap menjaga Via walaupun kali ini sebagai kakak bukan kekasihnya.
"Arda ingin selalu menjaganya Yah." Kata Arda lirih.
"Insya'alloh nak. Ayah akan berusaha membawa Via." Jawab Pak Rachmat penuh dengan keyakinan.
"Makasih Yah." Kata Arda dengan senyum yang mengembang pada bibirnya.
***
"Tok...Tok....Tok...." Via mengetuk rumah Melli.
"Via....!" Begitu terkejut Melli melihat Via yang berada dibalik pintu. Via hanya mengembangkan senyumnya untuk menjawab rasa terkejutnya Melli.
"Yuk masuk!" Ajak Melli sambil menarik tangan Via. Via pun mengikuti langkah Melli masuk kedalam rumahnya.
"Duduk Vi!" Pinta Melli pada Via yang segera diikuti oleh Via.