Rahasia Olivia

Sartika Chaidir
Chapter #32

DAMAI

"Vi, aku janji akan selalu buat kamu bahagia." Kata Erik pada dirinya sendiri.

Sesaat Erik teringat dengan Arda. Erik menjadi khawatir dengan keadaan Arda. Erik yakin saat ini hati Arda sangat hancur dan terluka. Bergegas Erik mengirim pesan untuk Arda.

"Da, lagi dimana?" Isi pesan dari Erik.

"Lagi di kereta, mau ke Jakarta." Jawab Arda dengan cepat. Arda merasa membutuhkan bantuan Erik.

"Sampai jam berapa? Nanti gue jemput." Dan gayungpun bersambut. Tanpa Arda meminta, Erik sudah lebih dulu memberikan bantuan.

"Sekitar jam 5 Rik." Jawab Arda singkat.

"Ok, besok gue jemput lu jam 5."

"Ok, makasih Rik.

***

Jam 5 tepat Erik sudah berada di stasiun Gambir. Namun kereta yang membawa Arda belum kunjung tiba. Erik memutuskan untuk menunggu Arda dan duduk di salah satu bangku tunggu sambil menikmati udara pagi yang masih sangat sejuk dengan pemandangan sangat indah yang semakin dipercantik oleh lukisan sang matahari dengan sinarnya yang malu-malu. Erik menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan, tubuhnya di rebahkan pada sandaran kursi. Tatapannya menyebar, pikirannya kacau, hatinya tak tenang. Erik merasa tak nyaman dengan hatinya yang kembali mengharapkan Via. Menurutnya sangat tak pantas berbahagia di atas luka orang lain. Tak hanya Arda yang terluka saat ini, Via pun pasti sangat terluka. Dan Erik yakin saat ini Ve juga terluka.

"Teng Tong Teng Tong.... Kereta Api Taksaka Tujuan Yogyakarta Gambir akan segera tiba di jalur tiga." Informasi yang berasal dari pengeras suara stasiun membuat Erik tersadar dari lamunannya. Bergegas Erik bangkit dari duduknya dan menuju jalur tiga. Dalam waktu 5 menit kereta yang membawa Arda tiba di jalur tiga. Erik mencoba mencari-cari sosok Arda di dalam kereta melalui jendela. Namun Erik tak menemukannya, dengan cepat Erik meraih handphonenya yang ia simpan di kantong celananya.

"Da, lu dimana? Gue di depan pintu kereta 5." Isi pesan Erik untuk Arda. Namun pesannya tak mendapatkan balasan dari Arda. Hingga begitu terkejutnya Erik ketika seseorang menepuk pundaknya. Dengan cepat Erik memalingkan pandangannya pada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.

"Rik...., udah lama?" Tanya Arda ketika padangan Erik telah tertuju pada Arda.

"Astaga, bikin kaget aja lu Da!" Seru Erik yang benar-benar terkejut dengan kehadiran Arda yang tiba-tiba dibelakangnya.

"Lumayan, sekitar 20 menit." Lanjut Erik.

"Sorry ya, gue jadi ngerepotin lu."

"It's okay."

"Oiya, kenalin Rik! Ini Ayah gue." Kata Arda pada Erik. Mendengar kata-kata Arda, jantung Erik berdetak tak berirama. Pandangannya tertuju pada sosok laki-laki setengah baya yang berdiri tepat di samping Arda.

"Ayah? Berarti ini Ayahnya Via." Kata Erik di dalam hatinya.

"Saya Pak Rachmat, Ayahnya Arda." Kata Pak Rachmat sambil mengulurkan tangannya, membuat Erik tersadar dari lamunannya.

"Saya Erik, Om." Kata Erik sedikit terbatah dan segera menyambut uluran tangan Pak Rachmat.

Lihat selengkapnya