"Alloh maha tahu yang terbaik untuk kita. Percayalah, takdir ini indah pada waktunya Kak." Bisik Arda yang membuat Via semakin terisak.
"Ya, kamu benar Da. Sekarang aku kakakmu, itu kenyataan dan takdir kita." Kata Via dalam hati.
Kini Arda bisa benar-benar ihklas melepas Via. Arda merasa penjelasan dan pernyataan Via membuat hatinya bisa menerima takdirnya.
Erik dan Melli pun sudah mengetahui semuanya dari Pak Rachmat. Dan itu membuat Erik semakin yakin dengan keinginannya kembali mendekati Via.
***
Malam ini Arda dan Pak Rachmat tinggal di rumah Erik, sedangkan Via masih bertahan di rumah Melli. Via masih membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikirannya dan menenangkan hatinya.
Seperti permintaan Arda, Pak Rachmat berniat untuk membawa Via tinggal bersamanya di Jogjakarta. Namun Pak Rachmat belum mengutarakn keinginannya pada Via. Pak Rachmat ingin bertemu terlebih dahulu dengan mantan istrinya dan membicarakan niatnya pada mantan istrinya.
"Jadi gue bisa dong deketin kakak lu?" Tanya Erik pada Arda sambil melepaskan senyuman dan duduk di samping Arda yang sedang menikmati suasana malam hari di halaman belakang rumah Erik.
"Bisa, kalau kakak gue mau sama lu!" Jawab Arda dengan nada sedikit ketus dan pandangan yang masih menyebar pada pemandangan dihadapannya. Mendengar jawaban Arda, tawa Erik terlepas.
"Masih cemburu?!" Goda Erik masih dengan tawanya. Arda yang sedang tak ingin menanggapi godaan Erik, hanya terdiam dan menatap Erik dengan tatapan tajam. Melihat sikap Arda, Erik segera menghentikan tawanya.
"Sorry bro! Tapi gue serius sayang sama kakak lu!" Kata Erik yang kini membalas tatapan tajam Arda.
"Yakin lu? Terus gimana sama kakak gue yang satu lagi?" Tanya Arda dengan nada yang masih tak bersahabat. Mendengar pertanyaan Arda, hati Erik bedegup kencang dan tatapannya berpaling pada pemandangan halaman rumahnya.
"Gue udah putus sama Ve." Kata Erik lirih dengan tatapan yang tak memiliki titik.
"Udah gue duga." Kata Arda dengan sinis. Dari awal Arda sudah bisa menilai hubungan Erik dan Ve tidak akan lama, karena hati Erik masih menyimpan harapan pada Via.
"Maksud lu?!" Tanya Erik yang tak nyaman dengan kata-kata Arda. Mendengar pertanyaan Erik, Arda tersenyum dan perlahan menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan.
"Maksud gue, hubungan lu sama Ve udah bisa gue baca kalau enggak akan bertahan lama." Kata Arda masih dengan senyum di bibirnya. Mendengar pernyataan Arda, Erik hanya bisa diam membisu.
"Gue tau, hati lu selama ini cuma ada Via. Dan lu mencoba merelakan Via sama gue karena Via milih gue." Lanjut Arda. Dan kali ini Erik benar-benar tak bisa mengelak, semua yang Arda katakan memang benar. Kini Erik yang menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan, mencoba memberi udara pada paru-parunya yang terasa sesak.
"Santai bro! Gue ihklas lu sama Via. Tapi jangan pernah lu sakitin Via. Kalau sampai lu sakitin Via, Gue enggak akan lepasin lu!" Kata Arda sambil menepuk pundak Erik dan bangkit dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Erik yang masih duduk terdiam.
"Gue janji buat Via selalu bahagia. Walaupun hati Via tetap enggak memilih gue." Kata Erik pada dirinya sendiri.
***
Pagi ini Erik bersama Arda dan Pak Rachmat menuju rumah Melli untuk menjebut Via. Sesuai rencana yang sudah Pak Rachmat katakan pada Via, bahwa Pak Rachmat yang akan mengatar Via pulang.
"Sudah siap nak?" Tanya Pak Rachmat pada Via yang sedang berdiri di teras rumah Melli bersama Melli dan ibunya. Dengan mantap Via menganggukkan kepalanya dan setelah mengucapkan terimakasih pada Melli juga ibunya, Via bergegas meninggalkan rumah Melli.
Selama di perjalanan Via terdiam dan tenggelam pada pikirannya yang kacau. Hatinya gelisah, dibenaknya hanya terbayang kemarahan Bunda yang akan menyambutnya.
Arda yang duduk di samping Via, sangat mengkhawatirkan keadaan Via. Wajah Via yang pucat dan pandangan yang tak memiliki titik, membuat Arda bisa merasakan ketakutan yang luar biasa pada Via. Perlahan Arda meraih tangan Via dan menggenggamnya, membuat Via kembali dari lamunannya. Pandangannya kini bertitik pada Arda dan senyuman Arda memudarkan rasa takutnya.
***
Dalam waktu 1 jam, mobil Erik telah memasuki halaman rumah Via. Wajah Via kembali pucat pasi, tubuhnya terlihat sangat gemetar dan Arda pun kembali mengkhawatirkan keadaan Via. Dengan cepat Arda meraih tangan Via dan menggenggamnya. Membuat pandangan Via berpaling pada Arda dan Arda mencoba menenangkam Via dengan senyumannya. Sesaat Via menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, mencoba mengumpulkan keberaniannya dan memantapkan hatinya.
Dengan hati yang masih terselimuti rasa takut dan jantung yang berdegup tak berirama, Via melangkahkan kakinya. Tangannya masih tergenggam pada tangan Arda, membuat Arda bisa merasakan ketakutan yang masih bersarang di hati Via.
"Tok....tok....tok...."
"Assalammualaikum." Via mengetuk pintu dan mengucapkan salam dengan suara bergetar.
"Waalaikusalam." Jawab seseorang dari dalam rumah dan muncul sosok Ve di balik pintu.
"Penghianat!" Seru Ve ketika melihat Via bersama Arda. Dengan tatapan tajam Ve mengalihkan pandangannya pada sosok Erik yang berdiri tak jauh dari Via.
Erik sudah bisa menebak sikap Ve pada Via dan semua itu terjadi karena dirinya. Ve pasti sangat terluka dan melampiaskan lukanya pada Via. Namun Erik memutuskan untuk diam, Erik tak ingin mengambil keputusan yang salah hingga semakin memperkeruh suasana.
Sedangkan Pak Rachmat yang berdiri di sebelah Erik, menatap Ve dengan tatapan haru. Pak Rachmat tak menyangka bisa menemukan kembali keluarganya yang sudah 17 tahun di carinya.
"Ve.... apa maksud kamu?" Tanya Via yang memang tak mengerti dengan kata-kata dan kemarahan Ve padanya.
"Jangan pura-pura enggak tau kamu! Dasar serakah!" Maki Ve pada Via. Rasa sakit yang bersarang di hatinya membuat Ve tak mampu mengendalikan emosinya.
"Cukup Ve! Aku benet-benet enggak tau maksud kamu!" Kata Via dengan nada yang sedikit tinggi.