Milenia melihat sekeliling. Seingatnya, ia berada di perpustakaan. Namun, kali ini dia berada di sebuah ruang semacam ruang santai dengan sofa dan sebuah perapian yang menyala.
Ragnara memberitahu, “Kamu tidak ingat, Riri? Kamu yang membuat seluruh ruangan berkabut. Dan setelah semua kabut itu pudar, kita sudah berada di ruangan ini.”
Pikir Oxa, “Perpustakaan ini punya banyak sekali cara membuat portal. Tadi kulit Ragnara sempat bentol-bentol, tapi sepertinya sembuh gara-gara asap yang kamu keluarkan tadi—itu juga portal, kan? Mau aku bantu berdiri?”
Oxa mengulurkan tangan kepada Milenia yang bahkan tak sadar dirinya masih duduk di lantai. Milenia menerima tangan itu. Ia menggenggamnya lalu berdiri dibantu sedikit tarikan Oxa.
“Kamu baik sekali. Sudah tak marah padaku gara-gara mencuri karyamu?” tanya Milenia.
Oxa hanya tersenyum canggung lalu melirik Ragnara yang menggaruk tengkuk dengan kikuk. Mereka saling pandang dengan tatapan bingung. Tatapan mereka seolah saling bicara dan saling mendorong untuk bicara lebih dulu. Ragnara akhirnya selangkah lebih dekat dengan Milenia dan mulai memberitahu sesuatu.
“Mmm … Riri. Kamu tahu kalau Perpustakaan Magenta ini memang agak aneh, bukan? Tapi selalu ada portal yang muncul lalu semuanya akan baik-baik saja. Maksudku, apapun yang terjadi padamu sekarang, kita harus yakin kalau nanti pasti akan membaik kembali.”
Milenia bingung. “Memangnya aku kenapa? Bukankah aku hanya pingsan sebentar tadi? Apa sesuatu terjadi saat aku pingsan? Aku merasa kulitku sangat kering sekarang. Apakah efek samping dari asap tadi?”
Sepasang tangan Milenia saling meraba. Setelah merasa tangannya seperti ada yang menyelimuti, ia memperhatikan tangannya sendiri lalu terdiam cukup lama sampai akhirnya memekik.
“APA INI? KENAPA TANGANKU PUNYA SISIK?”
Dengan mata membulat, ia menatap kulit tangannya yang ditumbuhi sisik seperti kulit ikan, lalu menatap Ragnara dan Oxa bergiliran. Kedua temannya itu hanya bisa menatap iba. Mereka juga bingung karena tidak tahu cara membantu.
Ragnara menceletuk dengan hati-hati, “Riri … sebenarnya … tidak hanya tanganmu.”
Milenia menunduk memperhatikan sepasang kakinya yang juga bersisik lalu meraba wajahnya yang kulitnya sama kasarnya dengan tangannya. Ia melihat sekeliling mencari cermin. Dia menemukannya, cermin tinggi di dekat perapian. Dia beringsut kesana untuk melihat keadaannya. Milenia pun terkejut mendapati sebagian kulitnya yang tiba-tiba berlapis sisik kehijauan seperti memar.
“Apa yang terjadi padaku?” tanyanya seraya menghadap Oxa dan Ragnara untuk meminta penjelasan.
Ragnara berkata, “Mungkin cuma kamu yang tahu jawabannya, Riri? Seperti tadi saat kamu menjelaskan tentang resonansi, frekuensi, gelombang dan … pola-pola apa tadi?”
“Aku sendiri bahkan tidak ingat dengan apa yang aku katakan tadi,” tegas Milenia. “Aku kenapa? Kenapa hanya aku? Dosa apa yang aku perbuat sampai aku harus menerima nasib seperti ini?”
Pikir Oxa, “Mmm … mencuri buku?” lalu segera diam karena Ragnara lekas menyikutnya.