Solo, 5 Mei 1998
“Hidup mahasiswaaa!”
“Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan! Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!” sambut massa sorak-sorai.
Para mahasiswa yang jumlahnya ratusan tampak berkumpul di depan boulevard kampus. Sebagian besar mengenakan jaket almamater biru muda, menegakkan wajah menantang panas Matahari, duduk di tanah dengan tangan mengepal ke atas mengikuti arahan koordinator lapangan atau Korlap aksi demo hari itu.
Jalan Insinyur Sutami yang berada di depan boulevard kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) sudah sepenuhnya ditutup. Mahasiswa berkumpul duduk di sepanjang jalan yang berada di depan boulevard. Satuan polisi pengendalian massa (Dalmas) tampak berada di berbagai sudut di jalan itu, sebagian dikonsentrasikan di ujung barat, sebagian lagi di ujung timur. Tampak beberapa mobil water cannon disiapkan polisi di beberapa sudut. Mahasiswa sudah memulai aksi unjuk rasa sejak pukul 10.00 WIB dengan berbagai orasi, menampilkan monolog secara bergantian, aksi teatrikal, hingga pembacaan puisi.
Ini adalah aksi kesekian kalinya mahasiswa di Solo dari berbagai kampus - bahkan ada yang datang dari kampus di Jogja – melakukan unjuk rasa yang dipusatkan di depan boulevard UNS. Krisis moneter sejak pertengahan tahun 1997 telah memaksa mahasiswa untuk mengambil sikap keras karena menilai pemerintah yang berkuasa telah menjerumuskan rakyat ke dalam jurang penderitaan. Harga-harga melambung tinggi, kebutuhan pokok tak terbeli, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi secara masif di berbagai kota di Indonesia, puluhan bank kolaps, ratusan perusahaan tutup, nilai tukar Rupiah yang pada Agustus 1997 masih di angka Rp 2.700 per USD 1, tumbang tak berdaya menjadi Rp 14.555 per USD 1 pada Januari 1998. Pelantikan Soeharto kembali menjadi Presiden pada 11 Maret 1998 dan telah berkuasa 32 tahun juga menjadi pemantik aksi unjuk rasa besar-besaran di berbagai kota di Indonesia.
Hingga pukul 12.30 WIB jumlah mahasiswa yang terkonsentrasi di area boulevard semakin banyak. Tak sedikit dari mereka yang sebenarnya hanya ingin pulang setelah menyelesaikan kuliahnya, namun tertahan karena bus kota tak bisa melewati jalan di depan kampus. Sebagian akhirnya memutuskan untuk berkerumun menyaksikan aksi unjuk rasa saat itu. Masyarakat sipil pun berdatangan turut bergabung.
“Ibu telah merelakan kalian untuk berangkat demonstrasi. Karena kalian pergi untuk menyempurnakan kemerdekaan bangsa ini!” lantang seorang mahasiswi yang mengenakan jaket almamater biru muda berdiri mengepalkan tangan kiri di plaza tepat di depan tulisan nama kampus. Tangan kanannya memegang megaphone. Riuh pengunjuk rasa menyambut suara sang mahasiswi yang memekik tinggi. Ratusan kepal tangan terhujam ke arah langit mengikuti gerakan mahasiswi itu. Teriakan pengunjuk rasa membahana, ritmis mengikut apa yang keluar dari mulut gadis itu.
“Hidup mahasiswaaaa!”
“Pergilah pergi, setiap pagi ... setelah dahi dan pipi kalian Ibu ciumi. Mungkin ini pelukan penghabisan!”
Mahasiswi itu tak sempat menyelesaikan sajak Dari Ibu Seorang Demonstran karya Taufik Ismail itu, karena mendadak dari sudut Tenggara terdengar riuh. Beberapa orang mahasiswa tampak menarik kerah seorang laki-laki berbaju merah dan mencoba menyeretnya ke depan. Laki-laki itu berontak, tetapi beberapa mahasiswa tetap menyeret. Salah satu mahasiswa berbadan besar melingkarkan lengan tangannya ke leher laki-laki itu kuat-kuat, memberi kuncian. Upaya laki-laki itu untuk melepaskan diri tak berhasil.
“Dia bukan mahasiswa ... penyusup! Provokatorrr!” teriak mahasiswa itu. Beberapa orang tampak mencoba menenangkan mahasiswa-mahasiswa itu. Polisi yang berada di sekitar lokasi tampak siaga namun menahan diri untuk bertindak. Beberapa orang tampak geram kepada laki-laki itu bahkan sebelum tahu apa kesalahan laki-laki itu sebenarnya. Sorak-sorai mahasiswa mencaci si laki-laki yang tampak panik.
“Kawan-kawaaaan ... harap tenang. Jangan terprovokasi. Kita menyampaikan aspirasi secara damai. Bapak polisiiii ... kalian lihat, kami adalah mahasiswa yang tahu aturan. Tapi di tengah-tengah kami banyak penyusup, banyak perusuh, banyak provokator. Bapak polisi, kami tahu kalian tahu siapa mereka! Kawan-kawaaan ... tenang ... tenaaaang! Jangan terpancing!” mahasiswi yang awalnya berpuisi tadi mencoba menenangkan situasi.