Rahasia Rasri

Ariyanto
Chapter #2

Perjalanan yang Tak Mudah

Guangzhou, 13 Februari 2023

 Amudra melangkahkan kaki menuju ke Guangzhou Railway Station. Cuaca hari ini muram tanpa cahaya Matahari, dengan suhu udara di kisaran 10 derajat Celcius. Cukup merepotkan bagi cowok itu mengingat dia tipikal tropical person. Meskipun begitu, dia menikmati perjalanan ini, mengingat ini kali pertama dia terbang ke luar negeri dan mengunjungi Negeri Tirai Bambu. Alih-alih mengeluh soal cuaca, pemuda itu lebih merasa repot karena di China nyaris semua hal ditulis dengan huruf China, tanpa huruf latin. Nyaris semua, bahkan untuk tahu di mana posisi jalur subway di stasiun itu pun dia harus bertanya ke orang. Bukan, bukan bertanya kepada warga lokal, karena kebanyakan tak paham bahasa Inggris, tetapi Amudra memilih bertanya kepada orang asing, yang ternyata banyak berlalu-lalang di Guangzhou. Mungkin mereka adalah pekerja asing di China, pikir Amudra.

 Setelah berhasil menemukan lokasi subway, Amudra pun menunggu mass rapid transit (MRT) jurusan Six Banyan Trees Temple atau Liurong Temple. Diliriknya jam tangan, kurang lebih 4 menit lagi MRT akan tiba dan akan membawanya ke tujuan itu. Waktu masih menunjukkan pukul 09.56 waktu setempat dan ini adalah hari keduanya berada di Guangzhou. Tak pernah terpikir dalam benak Amudra bahwa perjalanannya akan sejauh ini. Ini adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri dan dia berada 6.000 kilometer lebih dari kota tempat tinggalnya.

Pukul 10.00, kereta tiba. Amudra bergegas masuk, berjejal dengan penumpang lain. Dia tak berhasil memperoleh tempat duduk dan baginya itu tak mengapa. Amudra memasang perhatian kepada tanda setiap pemberhentian yang ada di dalam kereta itu. Kira-kira dibutuhkan total waktu 40 menit untuk sampai ke Six Banyan Trees Temple, jarak yang cukup jauh untuk MRT. Sebenarnya bisa juga naik bus kota, namun Amudra memilih naik MRT karena secara sistem lebih mudah untuk mencapai tujuan, yaitu tinggal naik subway line 1, berhenti di Gongyuanqian Interchange Station, keluar lalu tinggal jalan kaki menuju Ssix Banyan Trees Temple.

Pandangan Amudra menyapu isi MRT yang dipadati penumpang yang kebanyakan adalah ibu-ibu umur sekitar 40 – 50 tahunan. Di salah satu sudut, tampak seorang perempuan paruh baya duduk dengan posisi pundaknya digunakan untuk menyangga kepala seorang remaja laki-laki yang tengah tertidur. Amudra tersenyum, berasumsi bahwa itu adalah ibu dengan anak lelakinya. Kalau Ibu masih ada, mungkin seumuran perempuan paruh baya itu, pikir Amudra. 

Amudra cepat mengalihkan pandang ke arah lain. Teringat akan cerita bosnya di kantor, yang mengingatkan apakah dia yakin akan ke China di saat negara ini merayakan Chinese New Year? Kata si bos, waktu-waktu di saat ini adalah waktu di mana terjadi migrasi manusia terbesar di dunia karena jutaan orang akan mudik untuk merayakan tahun baru bersama keluarganya. Itu berarti Amudra akan kesulitan untuk hanya sekadar naik kereta antarkota.

“Ya kamu bayangin saja, kamu melakukan perjalanan saat lebaran, tapi di negara dengan jumlah penduduk 1,4 miliar jiwa. Hitung deh itu keribetannya. Di Indonesia aja yang jumlah penduduknya 270 juta jiwa kita udah puyeng kalau mau melakukan perjalanan pas lebaran. Kenapa sih nggak ditunda aja?”

Tapi Amudra sudah membulatkan tekad. Tidak mungkin mundur dengan alasan keribetan yang akan dia hadapi, untuk sesuatu yang sangat penting bagi hidupnya. Dia tidak tahu apakah langkah yang ditempuhnya ini adalah benar, tetapi dia harus melakukan segala cara supaya dia bisa melanjutkan hidup dengan lebih tenang. Ya, untuk alasan itulah, supaya dia bisa melanjutkan hidup dengan lebih tenang. 

Perjalanan ini bukanlah sebuah perjalanan yang mudah untuk dimulai. Sejak awal, Eyang Putri sudah mengingatkan untuk berhenti dan mematikan rasa penasaran itu, “Apa yang kamu cari, Dra? Tahu atau tidak siapa ayahmu tak akan ada bedanya, karena selama ini fisiknya toh juga tak pernah ada buat kamu. Apakah kalau bertemu dengannya maka dia berhak menyandang sebutan ayah buatmu? Apakah Eyang tidak cukup menggantikannya? Eyang kurang apa selama ini?” Amudra teringat wanita tua itu berulang mencoba mematahkan niatnya. Tidak, Eyang. Tidak ada yang kurang, sangat berlebih malah, batin Amudra. Tetapi ini bukan soal kasih sayang yang kurang atau lebih saja. Ini soal pertanyaan yang akan menghantui aku sampai mati, batin Amudra.

“Mudra hanya beberapa hari saja. Mudra pasti pulang menemui Eyang Putri lagi, Mudra janji. Mudra sudah siapkan semua yang Eyang perlukan. Mbak Puji akan tidur di rumah ini menjaga Eyang. Eyang tinggal panggil Mbak Puji bila perlu sesuatu. Yang penting, Eyang tidak boleh lupa makan teratur dan minum obatnya. Oke?” Amudra memandang wanita yang paling dia sayang itu dengan senyum. Umurnya sudah 83 tahun, meskipun terlihat sehat namun harus dipantau ketat karena kesehatannya bisa tiba-tiba di-drop.

Wanita tua itu adalah sebenar-benarnya orangtua bagi Amudra. Dia yang merawat Amudra sejak bayi, berada di sana saat Amudra bisa berjalan pertama kali, sekolah pertama kali, setiap hari setiap saat hingga Amudra dewasa. Ibunya, ada namun Amudra nyaris tak merasakan rasa sayang darinya, meskipun tak pernah menunjukkan rasa benci. Saat SD, saat dirinya sudah mulai bisa mencerna dan memahami tentang konsep "Ibu" sebenarnya, pernah terselip rasa sakit hati pada dirinya. Apalagi bila ada tetangga yang nyeletuk, "Ibumu gila ya? Punya anak kok nggak pernah diurusi."

Amudra memiliki keyakinan bahwa Ibunya tidak gila. Ibu hanya berbeda dengan Ibu lain. Dia tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya. Tidak mengambil rapor anaknya. Tidak mengajak anaknya jalan-jalan. Sosok Ibu yang hanya memandang nanar keluar jendela saat anaknya bingung kenapa baju seragam belum diseterika. Bahkan bukan jenis Ibu yang akan mengantar anaknya ke rumah sakit saat anaknya mengeluh sakit. Tapi Ibu tidak gila. Dia menjawab saat Amudra bertanya siapa ayah kandung Amudra.

"Dia pergi jauh. Jadi TKI di luar negeri," jawabnya. Masuk akal, memenuhi logika. Jadi bukan orang gila. Tetapi memang, yang paling enak didengar adalah kalimat-kalimat Eyang Putri. "Ibumu bukannya tidak sayang. Ibumu sedang sakit, jadi kamu harus maklum. Lagian ada Eyang Putri, kan?" kalimat yang selalu menenangkan hati Amudra.

Amudra tersenyum, terbayang wajah Eyang Putrinya. Sekarang dirinya sudah berada ribuan kilometer dari wanita kesayangannya itu. Kereta MRT sudah hampir tiba Gongyuanqian Interchange Station. Amudra bersiap-siap untuk turun dan membetulkan ransel yang dicangklongnya. Perasaannya berkecamuk tak karuan saat dirinya hampir sampai di Six Banyan Trees Temple. 

Begitu sampai, pemuda itu segera keluar dari area stasiun MRT, lalu mencari arah menuju ke Six Banyan Trees, yang ternyata cukup mudah karena itu salah satu bangunan paling menonjol di area itu, di mana menaranya menjulang tinggi. Dengan dipandu ujung menara yang terlihat, Amudra berjalan semakin mendekat ke arah kuil itu. Veronica Wang, gadis yang akan dia temui, mengatakan bahwa dirinya sudah berada di areal kuil kalau sudah melihat banyak pengemis duduk berjajar di sepanjang jalan sambil membawa kaleng di tangannya. Pemandangan itu pula yang saat ini dilihat Amudra. 

 “Jangan kamu beri mereka uang, kecuali kamu memiliki uang cukup untuk memberi semuanya. Satu kamu beri, maka yang lain akan menyerbumu dengan menyodorkan kaleng. Saranku, mengingat kamu melakukan perjalanan on budget, abaikan mereka,” saran Veronica kemarin melalui pesan singkat.

 Amudra mengabaikan para pengemis yang dilewatinya, lalu masuk ke halaman kuil itu. Banyak orang di kuil itu, kebanyakan pengunjung yang ingin berdoa. Bau dupa menyergap hidung Amudra dengan cepat. Amudra berdiri di samping samping semacam tugu yang lebih tinggi sedikit dari tubuhnya, dengan pot untuk menancapkan dupa. Di depannya adalah menara kuil sekitar delapan tingkat, dengan tali menjulur di berbagai sudut yang dihiasi dengan bendera kecil-kecil. 

 “Bagaimana aku menemukanmu?”

Lihat selengkapnya