Yuexiu Park, Guangzhou, 14 Februari 2023
Amudra melangkah menjajari langkah Veronica menyusuri gerbang Yuexiu Park yang didominasi warna merah dari lampion maupun ornamen lainnya. Mereka tak harus membayar tiket masuk karena bersamaan dengan libur nasional perayaan Tahun Baru China. Cuaca sejuk sekitar 20 derajat Celcius, lebih hangat dari kemarin yang mencapai titik terendah 13 derajat Celcius, membuat suasana hari itu cukup nyaman.
“Dia menunggu kita di dekat Statue of Five Rams. Patung lima kambing yang menjadi simbol kota ini,” tutur Veronica. Amudra suka dengan gaya bicara Veronica yang selalu mengandung informasi-informasi baru. Dia seorang guide yang bagus.
“Masih jauh?”
“Lumayan. Capek?” tanya Veronica.
“Enggak. Cuma degdegan saja,” jawab Amudra lugu.
“Jauh – capek – degdegan, sepertinya yang terakhir tidak nyambung,” seloroh Veronica sambil tertawa. Amudra ikut tertawa.
“Iya, nggak tahu. Hari ini semuanya serba tak jelas. Mixed feeling. Antara excited, ragu, senang, takut, degdegan, semua jadi satu. Aku belum pernah dalam situasi seperti. Padahal seharusnya aku happy karena bukankah ini yang selama ini aku tunggu?”
“Aku masih ingat, ada kata happy sudah kamu sebut kok tadi sebagai bagian dari mixed feeling yang kamu rasakan,” Veronica mengingatkan. Amudra tersenyum.
Mereka terus berjalan. Siang itu suasana taman cukup ramai yang kebanyakan pengunjung adalah rombongan keluarga. Mereka melewati satu danau dari tiga danau yang ada di sana. Terlihat juga pucuk sebuah menara, yang kata Veronica adalah Menara Zhenhai.
“Kita sudah dekat. Itu di ujung sana,” tunjuk Veronica.
Amudra refleks membetulkan kerah jaketnya, seolah ingin dilihat orang itu dalam penampilan terbaiknya. Tetapi sebenarnya itu hanya refleksi kegugupannya. Berkali-kali pemuda berkulit kuning itu menyentuh rambut ikalnya seperti ingin merapikan.
“Kita sudah sampai. Itu patungnya.”
“Di mana dia?” tanya Amudra dengan suara agak bergetar. Veronica menepuk-nepuk punggung Amudra seperti ingin menenangkan.
“Sepertinya laki-laki itu, yang berdiri di sisi kiri patung, dekat booth persewaan pakaian tradisional. Jaket dark blue, celana hitam. Tak ada orang lain yang memakai pakaian serupa seperti yang dia omongkan ke aku,” terang Veronica. Jarak mereka dengan laki-laki itu sekitar 20 meter. Beberapa saat kemudian laki-laki itu berbalik menghadap ke arah mereka, sedikit celingukan sebelum kemudian melambaikan tangan ke arah mereka.
“See? Benar dia. Sudah, kamu temui dia, aku akan meninggalkan kalian berdua. Hari ini aku ada jadwal mendampingi turis dari Indonesia dan baru kelar nanti sore. See you!” Veronica tanpa ba-bi-bu langsung beranjak menjauh dari Amudra. Giliran cowok itu yang bingung harus bagaimana.
Ditariknya napas dalam-dalam, sebelum kemudian mencoba melangkah dengan mantap ke arah laki-laki itu. Amudra berharap 20 meter itu akan melar memanjang sampai perasaannya benar-benar tertata sempurna. Sejujurnya dia tidak tahu harus memulai dari mana, “Hai, apa kabar?” atau “Ni hao ma?” atau langsung to the point saja, “Hai, aku Amudra, anak laki-lakimu yang selama ini belum pernah bertemu denganmu!”
Pikiran Amudra kacau. Kakinya semakin berat untuk melangkah saat sosok laki-laki itu sudah semakin dekat. Hingga akhirnya laki-laki itu sudah berada sekitar 2 meter di hadapannya. Amudra menghentikan langkah, berdiri mematung dan hanya mampu memandang laki-laki itu.
“Kulitnya kuning langsat seperti kulitku. Hidungnya mancung seperti hidungku. Rahangnya tampak keras seperti rahangku. Tetapi rambutnya lurus, sementara rambutku ikal. Oya, mungkin aku mendapatkan bagian rambut ini dari Ibuku. Dia tinggi, mungkin 178 cm, sementara aku cuma 173 cm,” kalimat-kalimat itu berserakan di benak Amudra, di saat dia hanya berdiri mematung.
Tubuh Amudra terlonjak kaget saat laki-laki itu mengambil inisiatif mendekatinya. Sekarang jarak mereka hanya tak lebih dari setengah meter. Setelah kecanggungan beberapa saat, laki-laki itu mengulurkan tangannya.
“Halo, aku Zhang Bingwen,” ujar laki-laki itu dengan menarik ujung dua bibirnya ke atas. Tersenyum.
“Halo, aku ... Amudra ... Prabantara,” balas Amudra terpatah-patah.