Solo, 7 Mei 1998
Kuliah Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) Fakultas Sastra dan Seni Rupa akan segera dimulai. Ruang yang dipakai selalu di 304, ruangan yang paling luas dan berada di lantai 3. Kuliah MKDU memang butuh ruang besar mengingat diikuti oleh mahasiswa dari berbagai jurusan, yaitu Sastra Indonesia, Sastra Daerah, Sejarah, Sastra Inggris, kecuali jurusan Seni Rupa yang terpisah. Konsep ruang kelasnya dibuat seperti tribun, semakin ke belakang semakin tinggi posisi tempat duduknya.
Rasri mengambil tempat di baris ketiga dari belakang, kursi yang sudah “dipesankan” Billy untuknya. Billy tersenyum menyambut kedatangan Rasri, bak menyambut ratu.
“Hari ini penuh juga ya. Biasanya banyak yang bolos,” celetuk Rasri menyapu pandangan ke sekeliling.
“Iya, heran pada rajin-rajin. Oya, kamu sudah sarapan? Habis kuliah ini kita sarapan, ya?” tawar Billy.
“Yeee, kalau habis kuliah ini sudah masuk makan siang dong. Kan sudah jam sebelasan,” tukas Rasri.
“Ya apa aja deh. Aku pengen nasi pecel telur pindangnya Mbak Jum.”
Pak Hendry dosen Pendidikan Kewarganegaraan yang merupakan mata kuliah MKDU tampak masuk ke dalam ruang kuliah. Beberapa mahasiswa masih tampak menyusul masuk. Biasanya setelah sekitar 5 menit, Pak Hendry baru akan memulai kuliahnya dan menutup pintu kelas. Ruang kelas yang luas di 304 biasanya hanya akan terisi sepertiganya saat kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Tapi kali ini tampak lebih penuh dari biasanya, separuh lebih bangku terisi.
“Aku masih ngantuk,” bisik Billy.
Rasri melirik ke arah Billy. Gadis itu merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan dua bungkus permen kopi, lalu menyorongkan satu bungkus ke arah Billy.
“Makasih,” Billy mengerlingkan matanya.
“Selamat pagi ... semua,” suara Pak Hendry memecah ruangan. Dosen yang berperawakan tinggi tegap itu mengedarkan pandang ke seluruh sudut ruangan. Lalu terdiam saat matanya berhenti di beberapa sudut.
“Hmmm ... hari ini kelas penuh, ya. Sepertinya ... ini sepertinya saja lho, ya. Sepertinya ada banyak wajah-wajah baru yang hadir pagi ini. Ya sudah tak apa-apa. Yang penting jangan ganggu proses perkuliahan saja,” kata Pak Hendry, sambil tersenyum penuh arti.
Rasri menangkap senyuman Pak Hendry dan langsung terdiam. Matanya mengedarkan pandang ke seluruh kelas. Ada mungkin sekitar 50 orang lebih, yang merupakan mahasiswa dari berbagai jurusan. Maksud Pak Hendry apa ya? Batin Rasri. Gadis itu menyikut Billy. Ini memang tak biasa karena MKDU selalu membosankan untuk diikuti sehingga banyak mahasiswa yang memilih bolos.
“Kamu lihat ada wajah yang nggak kamu kenal?”
Billy celingukan, sebelum kemudian menaikkan kedua pundaknya, “Nggak tau. Aku hanya kenal wajah anak-anak Sastra Indonesia, sebagian anak Sastra Daerah dan Sejarah,” bisik Billy.
Rasri terdiam, lalu menuliskan sesuatu di secarik kertas, melipatnya dan menyodorkan ke Billy. Pemuda itu membuka kertas lipatan yang diberikan pacarnya, lalu membacanya “Ada banyak intel ikut kuliah”. Billy menutup kertas itu cepat, lalu memasukkan ke dalam saku kemejanya.
“Menurutmu?” tanya Billy melirik ke arah Rasri.
Rasri mengangguk, lalu meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, "Ssst ..." bisik Rasri lirih. Keduanya terdiam, tak berani menoleh ke belakang atau mengecek wajah mereka yang duduk di sekitarnya.
Kuliah berlangsung membosankan, seperti halnya MKDU lainnya. Rasri hanya mencorat-coret tak jelas bukunya, mendengarkan sambil lalu apa yang disampaikan Pak Hendry. Billy setali tiga uang, malah menggambar di buku catatannya. Sesekali dia menggoda Rasri. Hubungan Billy dan Rasri sudah menjadi rahasia umum. Mereka berdua dari SMA yang sama, yaitu SMAN 2 sebelum kemudian kuliah di fakultas yang sama tapi beda jurusan. Rasri mengambil jurusan Sastra Indonesia, sementara Billy mengambil jurusan Sastra Inggris. Keduanya sudah pacaran sejak kelas 3 SMA, cukup lama untuk disebut sebagai cinta monyet.
MKDU adalah mata kuliah yang membosankan karena biasanya soal kewarganegaraan, kewirausahaan, Pancasila, atau bahasa Indonesia dasar, namun disukai Billy dan Rasri karena itulah saat mereka bisa kuliah bareng satu ruangan dan duduk berdampingan.
Baru 30 menit kuliah berlangsung, mahasiswa yang berada di ruang 304 dikejutkan dengan raungan suara sirine yang sepertinya keluar dari megaphone. Pak Hendry menghentikan kuliah sejenak, karena mustahil juga berbicara dalam situasi berisik seperti saat ini.
“Yang mau reformasi, ayo keluar ...”