Amudra mendatangi gadis yang melambaikan tangan ke arahnya. Veronica, gadis itu dengan senyum lebar menyambutnya. Veronica Wang dikenalnya dari Danny, temannya yang bekerja menjadi jurnalis media cetak lokal.
Pencarian tentang siapa sebenarnya Ibunya memang banyak mendapatkan bantuan dari Danny. Amudra menemukan jejak masa lalu Ibunya dari sebuah kebetulan. Suatu hari, out of the blue, Danny mendatanginya dan menunjukkan selembar kertas kopian berisi potongan berita dengan sebuah foto.
“Wajah yang sepertinya aku kenal. I don’t know ... menurutmu?” sodor Danny saat itu. Amudra memandang lekat ke arah kertas itu dan menemukan sosok yang dikenalnya.
“Ibuku?”
Danny tersenyum, “Kalau memang benar ini Ibumu, dia pasti sosok yang hebat di masa lalunya,” kata Danny. Amudra tertegun. Danny adalah sahabat baiknya yang tahu benar apa dan bagaimana keluarga Amudra. Danny adalah tempat Amudra menumpahkan keluh kesah persoalan keluarganya.
Tahun lalu, tepatnya Mei 2022, Danny mendapat tugas untuk membuat laporan indepth kilas balik kerusuhan Mei 1998. Saat riset, dia menemukan berita itu. “Ada beberapa, tapi tak banyak tulisan yang mengungkapkan siapa gadis itu sebenarnya,” imbuh Danny.
Danny menyatakan keheranannya, kenapa sosok gadis itu tak banyak diungkap. Padahal secara news value tentu hal ini menarik. Gadis yang tangguh, berani, berada di garis terdepan pergerakan mahasiswa. Itu akan menghasilkan headline-headline yang seksi bagi media. Sosoknya satu dibanding seribu, tak hanya menjadi orang yang hanya anak bawang, tapi dia juga seorang leader.
“Heran, sosok se-prominen ini terlupakan. Jejaknya juga tak banyak kutemukan.”
Amudra hanya terdiam saat itu. Dirinya bahkan tak tahu bahwa Ibunya adalah sosok pemimpin pergerakan atau setidaknya pernah menjadi bagian penting pergerakan mahasiswa. Eyang Putrinya tak pernah bercerita, apalagi Ibunya. Tetangga? Rumah mereka pindah dua kali selepas kerusuhan 1998. Tak banyak orang yang mengenal keluarganya.
Wajah gadis di koran itu serupa dengan Ibunya. Sosok gadis yang berdiri paling depan saat aksi unjuk rasa tahun 1998. Petunjuk ini pula yang kemudian menuntunnya hingga bertemu Zhang Bingwen. Lagi-lagi Danny yang memberikan petunjuk. Dia mewancarai salah seorang tokoh pergerakan mahasiswa tahun 1998 yang sekarang jadi politikus, yang mengenal gadis di potongan berita itu. Narasumbernya itu membenarkan bahwa gadis di koran itu adalah Rasri. Dia menambahkan, nama Rasri redup pascakerusuhan dan jejaknya tak diketahui lagi, bahkan dia tidak pernah kembali ke bangku kuliah.
Amudra pernah mengkonfirmasi hal ini kepada sang Ibu yang dijawab dengan tangisan, sementara Eyang Putrinya memilih bungkam. Amudra mencari cara lain, yang akhirnya menemukan satu nama: Billy Sutandyo. Butuh satu bulanan untuk menemukan rekam jejak hidup Billy, sebelum kemudian Danny menyodorkan nama Veronica Wang yang kemungkinan bisa membantunya. Veronica Wang, teman SMA Danny yang saat ini kuliah di Guangzhou dan keluarganya cukup dekat dengan komunitas orang-orang Indonesia yang pindah ke China.
“Jadi gimana tadi setelah bertemu Zhang?”