Solo, 11 Mei 1998
“Kawan-kawan di Jakarta sudah mulai mempersiapkan diri. Kita di daerah harus terus memantau. Kondisi sudah semakin buruk, krisis moneter sudah berdampak sangat parah dan ini adalah masalah ekonomi yang serius. Saat ini agenda kita seharusnya bukan lagi menolak kenaikan harga BBM, tapi harus melengserkan Soeharto!” pandangan Rasri beredar ke orang-orang yang berada di ruang sekretariat Paramasastra. Semua terdiam.
“Apa tidak sebaiknya kita menahan diri dulu? Kasus kerusuhan di Medan tanggal 6 Mei lalu pada akhirnya justru merugikan masyarakat juga. Belum lagi korban jiwa,” sela Bodot, nama panggilan Budi. Bodot adalah salah satu orang senior di Paramasastra, sehingga kerap suaranya menjadi pegangan para yunior di lembaga pers kampus itu. Tapi tidak bagi Rasri. Dia menghormati Bodot, tetapi dia juga kerap berseberangan dengan Bodot.
“Menahan diri bagaimana? Justru ini momentum bagi kita untuk mendesakkan agenda kita. Opsi pemerintah yang telah menaikkan harga BBM dari Rp 700 per liter menjadi Rp 1.200 per liter adalah opsi gila! Rakyat saat ini nyaris tidak mampu membeli apa-apa, masih harus dicekik begini! Apa yang terjadi di Medan adalah bentuk kemarahan rakyat!” nada Rasri naik.
“Kita bisa kok menaikkan isu kenaikan BBM tanpa harus berujung ke isu pelengseran,” sambar Bodot.
“Aku pikir kondisi sekarang sangat dinamis. Kita harus mengikuti apa yang berkembang di masyarakat. Berkuasa 32 tahun dan berujung kesengsaraan masyarakat sepertinya tak perlu ditoleransi lagi. Kita butuh reformasi. Soal demo antikenaikan BBM ini adalah satu dari sekian banyak alasan kita untuk mendorong turunnya Soeharto. Aku pikir begitu,” kata Saiful, pemimpin redaksi Paramasastra. Rasri mengangguk cepat mendengar kalimat Saiful. Lalu pandangannya berpindah ke arah Bodot yang meliriknya dengan sinis.
Rasri merasakan pola yang sama selama dia setahun bergabung dengan Paramasastra. Saat dirinya mengungkapkan gagasan dan opininya, selalu Bodot memilih untuk mengambil posisi berseberangan. Satu kali dua kali dia pikir itulah yang menjadikan sebuah diskusi menjadi seru dan berbobot. Tetapi setelah hampir setahun, dirinya mulai paham bahwa kalimat Bodot tak pernah ramah kepadanya. Pun saat ide-ide Rasri dianggap brilian oleh seluruh tim redaksi dan layak dilaksanakan, selalu ada yang nyempil satu yaitu Bodot yang mengambil posisi tidak sepakat.
“Itu bagian dari kebebasan berpendapat, sikap kritis yang harus dijaga dan justru bagus buat kita kalau ada yang tidak sepakat dengan kita. Karena orang yang kritis terhadap pendapat kita justru dia sedang menyodorkan gagasan bahwa mungkin ada yang salah dengan ide kita, atau ada celah yang harus kita tambal dan antisipasi,” kata Saiful saat itu.
Rasri akhirnya tak ingin memelihara perasaan itu. Sejauh ini dia masih bisa bertahan dengan apa yang dilakukan Bodot. Lagi pula, ide-ide dan gagasannya masih kerap dipakai jadi acuan dan agenda aksi lembaga pers itu.
“Saat ini kondisi sangat genting. Aku sudah mendapatkan informasi dari kawan-kawan dari berbagai kota, kita harus mulai berhati-hati. Kita juga harus merapatkan barisan dan sebisa mungkin menghindari pecahnya aksi rusuh. Jangan sampai kerusuhan yang terjadi di Medan lalu terulang. Ada korban tewas dalam kerusuhan itu, polisi pun dilaporkan sudah menahan ratusan orang terkait kerusuhan itu. Kita harus benar-benar mampu pegang kendali. Satu orang dari kita setidaknya harus mampu mengendalikan 100 orang yang ada di lapangan. Secara khusus, aku tetap minta Rasri menjadi Koordinator Lapangan Aksi,” tegas Saiful.
“Aku siap,” sambar Rasri.
“Berkaca dari aksi terakhir kemarin, Rasri tak cukup mampu mengendalikan massa sampai kemudian pecah keributan. Coba dipikirkan ulang,” celetuk Nug, redaktur pelaksana Paramasastra.
“Aku juga berpikir demikian. Rasri telah gagal,” lirik Bodot seperti mendapat amunisi untuk menyerang Rasri.
“Rasri sudah cukup mampu menjadi Korlap saat itu. Tetapi kalian sebagai orang yang juga bertanggung jawab mengendalikan massa telah gagal melaksanakan tugas. Kalau kalian saat itu berinisiatif menarik keluar laki-laki berbaju merah itu, maka tidak akan sekacau itu situasinya,” sambar Saiful. Rasri diam tak mau membela diri.
“Aku sepakat Rasri kembali pegang kendali. Satu, dia berhasil memunculkan perasaan heroik di hati para pengunjuk rasa dengan keberaniannya, kelantangannya, sehingga para pengunjuk rasa tetap bertahan di sana. Dua, polisi segan untuk bersikap represif pada dia. Ketiga, media sangat menyukai perempuan muncul di halaman depan mereka,” papar Arini.